Kamis, 30 April 2015

Lebih baik menjadi (pura-pura) baik

Rabu Malam ber-angin, 29 April 2015

Maka aku masuk mengendap-endap di tiap-tiap hening yang ada. Jalan berjinjit, sepatu ku tenteng di tangan kanan. Berusaha sebaik mungkin menyembunyikan suara derap kaki dan hembusan nafas yang memburu dari ketakutan akan malam. Berusaha aman dari apapun yang mungkin mengancam. Hampir tiap malam begitu. Biasanya ada yang entah sepenuh atau setengah hati mau mengantar. Tapi jika tidak, mau tidak mau aku pura-pura berani berkendara sendiri. Melewati jalan sepi, berebut jalan dengan mobil-mobil besar pengangkut batu bara. Dingin. Sendirian.

Jika tidak begitu, aku akan dengan senang hati menumpang bermalam di rumah teman atau adik. Mereka pun entah sepenuh atau setengah hati mau menerima adanya orang lain di kamar rumah mereka untuk satu malam. Tidak. Tidak hanya satu malam. Terkadang dua, tiga, atau empat malam, dan pada kondisi tertentu bisa lebih dari itu. Pada masa lain, ketika aku merasa tidak enak hati pada si empunya rumah, aku akan berpindah tidur dari rumah ke rumah, di malam ini lalu di malam berikutnya. Begitulah. 

Lalu ada pula ketika niat baik ternyata tak berbalas. Oh, ternyata bukan saja cinta yang tak berbalas, niat baik pun sering dianggap sebagai hal klasik yang secepat itu dilupakan, diabaikan. Padahal, jika mau membesarkan ego, buat apa aku susah-susah berpikir dan berbuat baik, yang nyatanya mendapat respon yang acuh tak acuh. Aku bisa saja (berpura-pura) tidak peduli pada banyak orang dan memilih untuk bersikap otoriter asal semua jalan, semua aman. Tapi kehidupan menurut ku tidak seperti itu. Ada pergantian, ada masa, ada penerus, ada hal-hal selanjutnya. Dengan segala keinginan hati, aku mau segalanya jadi lebih baik. Aku ingin ada peningkatan dari waktu kini dan nanti. Namun malang, niat ini rupanya malah dianggap sesuatu yang malah ‘pura-pura baik’ mungkin. Dianggap angin lalu, disamakan seperti udara, tak terlihat, hilang.

Namun dibalik semua peristiwa yang terjadi, aku masih dan tetap belajar untuk mengimani kasih Agape. Kasih yang tak pernah menuntut balas, tak bersyarat,  unconditional love. Meski ada waktu ingin sekali bilang “Do you even know how you make me weak?” ke orang-orang itu, tapi ya sudah lah, ‘toh Sang Guru pernah mengalami banyak hal yang lebih dari ini, jadi nikmati saja.

Aku masih sangat ingat kata Ki Hajar Dewantoro, bahwa setiap tempat adalah sekolah, setiap orang adalah guru. Dengan ini, akan kujadikan orang-orang itu menjadi guru terbaik yang mengajarkan sekaligus memberi kesempatan buat ku untuk belajar mengimplementasikan sebuah nilai kesabaran yang mengasihi. Dan lagi,  juga masih ku ingat kata adik ku, Willem, bahwa jangan pernah melihat orang dari hal buruknya, tapi dengar dan pelajari hal baik darinya, meski perkataan terkadang tak sejalan dengan tindakannya. Nah, bahkan dari si adik, aku tetap bisa belajar tentang sebuah kebijaksanaan.

Malam ini, niat awal ku untuk bercerita kepada seseorang, ku urungkan dulu saja. Lagipula, jaringan sedang tidak mendukung juga. Jadi daripada setengah-setengah lebih baik tidak sama sekali. Untuk malam ini, rangkaian kata-kata yang kutulis melalui ini terasa lebih memberikan peneguhan hati, karena hakikatnya sembari kita menulis, kita menasihati diri sendiri.

        Jadi, daripada aku bertindak seperti orang yang (pura-pura) tidak peduli, lebih baik aku melanjutkan semua hal ini dan selanjutnya dianggap sebagai orang yang (pura-pura) baik. Suatu saat, semoga mereka mengerti, lalu peduli. Mengerti dan peduli dengan hati, dengan kasih.

          Mereka, semoga pada masa selanjutnya, berkarya dengan lebih baik daripada karya ku, berlaku lebih baik dari pada laku ku, berucap lebih baik dari pada ucap ku. Jika mereka berhasil, maka aku akan menjadi orang yang jauh lebih berhasil. Aku akan bangga, bukan pada ku, tapi pada mereka.

Selamat malam, Rabu. Semoga segera tercerahkan hati dan pikiran. Semoga tetap selalu memiliki kasih, kasih tanpa syarat, kasih Agape =)

Buatlah hal-hal baik, demi gereja dan tanah air!!!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar