Kamis, 22 Oktober 2015

Dear, LIBRA... (The Last Letter)





Singapura, 13 Januari 2021

Dear, LIBRA...

Li, apa kabar mu? Masih ingat aku tidak? Aku teman mu di Perguruan Tinggi dulu. Kita beda jurusan dan angkatan, memang! Tapi kita sama-sama belajar di wadah mahasiswa yang sama. Kita sama-sama pengurus BEM di Kampus Sriwijaya delapan tahun silam. Kita sama-sama dalam satu divisi yang sama. Kau, kepala bidang waktu itu. Aku,  sekretaris divisi mu yang kau bilang sekretaris paling cerewet sepanjang masa.

Li, mungkin kau terkejut menerima surat ini. Begitupun aku. Aku benar-benar tak tahu kenapa harus menulis surat ini dan mengirimkannya kepada mu. Aku benar bingung kenapa setelah sekian tahun tanpa komunikasi melalui media apapun, aku mencari-cari lagi alamat  e-mail mu agar dapat kukirimkan ini. Yang kutahu, aku tersentak akan suatu peristiwa yang akan datang, serta diingatkan lagi dengan perasaan dulu-dulu, kepadamu. Aku merasa, sebelum aku akan segera dihadapkan pada suatu peristiwa, harus terlebih dahulu kutuntaskan perasaan dulu agar kita (atau lebih tepatnya aku), bisa lebih ringan menjalani hari-hari depan.

Li, jika kau masih ingat, pernah juga kutuliskan surat cinta monyet pada mu dulu. Surat cinta monyet itu, ya tentang perasaan suka-sukaan adik kelas ke kakak tingkatnya. Dan kau anggap itu hanya candaan, lalu kau juga yakinkan aku bahwa itu hanya rasa suka dan sesaat, jangan terlalu di dalami, nanti sesat. Akupun mengangguk menurut. Ya, itu hanya perasaan sesaat yang sesat. Itu sesaat. Itu sesat.

Dengan keyakinan itu, aku coba berhenti. Meski tak sepenuhnya berhenti, karena aku masih belum yakin bahwa itu hanya perasaan sesaat yang sesat. Aku justru semakin membuat rasa suka mengendap, sampai perasaan ‘suka’ ini naik ke level ‘cinta’. Dan setelahnya, aku makin dan semakin dilema. Kau taulah, anak perempuan semester lima yang belum pernah tau ada apa dibalik kata ‘pacaran’ yang juga cintanya masih membara. Waktu itu aku masih galau-galaunya dan yakin-yakinnya bahwa kaulah yang akan menjadi pendamping hidup. Duh, berlebihan ya? Ya, sekali lagi maklumi saja, namanya juga anak semester lima.

Li, setelah kau lulus, dari sanalah awalnya kita semakin sibuk dan tiada kata sapa pada akhirnya. Kita semakin sibuk pada dunia masing-masing. Selepas kau lulus dan kembali ke kampung mu di Jambi, aku hanya bisa ‘menguntit’ dari status-status mu di Facebook dan BBM. Terus-terusan ku cek apa saja yang kau update di dunia maya, lalu kuterjemahkan sendiri. Lalu beberapa bulan kemudian, BBM mu off, jadi aku hanya mengandalkan Facebook saja untuk mengetahui apapun tentang mu. Itu kulakukan dari semester enam sampai aku lulus kuliah, menguntit mu melalui media. Aku penguntit yang setia, bukan? 

Li, sebulan setelah aku lulus kuliah, entah dengan alasan apa, tiba-tiba saja aku tidak bisa lagi menemukan akun Facebook mu. Kata teman-temanku, mungkin kau sendiri yang dengan sengaja menutup akun mu. Jujur saja, agak sedih dan kecewa kurasa. Mengetahui semua kegiatan mu dari Facebook sudah menjadi kebiasaan hampir setahun lebih kulakukan. Itu hal yang sangat menyenangkan buat ku. Namun ya, kau sudah tutup akun, aku bisa apa? Setelahnya, aku benar-benar tak tahu apapun lagi tentang mu. Tapi yang makin jelas adalah, aku semakin dan semakin menyukai mu, entah karena apa.

Li, bulan depan aku akan menikah. Tepat di tanggal 27 di bulan lahir mu, Februari. (Dulu aku pikir, karena namamu Libra maka kau lahir di sekitaran zodiak yang sama. Ternyata kau malah lahir di bulan Februari dua hari sebelum hari kasih sayang.) Jadi, pada akhirnya inilah tujuan ku mengirim surat ini padamu. Tujuan lainnya, karena aku merindukan mu. Aku rindu bebagi cerita dengan mu. Tapi jangan kau pikir aku tidak mencintai calon suami ku, kami sama-sama orang Indonesia yang merantau ke Singapura. Dia sangat menjaga ku, juga mencintai aku. Sebaliknya aku. Kami saling mencintai. Dan kami akan segera menikah. 

Li, tahun ini usiamu 28 tahun kan? Bagaimana cerita cinta mu? Aku harap kau pun beruntung dengan kisah kasih mu dan bertemu dengan perempuan yang tepat. Kau orang yang penuh pertimbangan memang, namun jika sudah bertemu perempuan yang sesuai, jangan terlalu lama mempertimbangkannya, nanti malah kau tak dapat. 

Lalu, melalui surat ini juga aku mengundang mu, Li. Aku akan menikah di Palembang, datanglah jika sempat. Jarak Palembang-Jambi tidak begitu jauh, kan. Nanti jika jumpa, aku ingin mengenalkanmu pada dia. Entah kenapa, ingin saja. 

Dan Li, akhirnya beginilah kita. Kita tetap tidak disatukan oleh Tuhan meski banyak malam telah kumintakan padaNya. Tapi rancangan Tuhan lebih indah. Tuhan tidak mengabulkan ingin ku untuk punya takdir padamu, tapi dia mempertemukan aku dengan lelaki yang benar-benar baik. Kau pun begitu pastinya. Aku tidak cukup baik untuk mu, kita tidak cukup baik bagi satu sama lain. Jadi kita tak baik jika bersatu. 

Li, di akhir surat ini, aku ingin kita bisa saling bertemu dan menyapa lagi. Sebenarnya dari awal kita tidak punya masalah apapun untuk diribetkan. Kita partner saat kuliah dulu, kita berteman dan bersahabat baik. Hanya saja ruang dan waktu yang membedakan kita, lalu kesibukan pun menyita kesempatan untuk saling menyapa. Semoga saja, Tuhan segera mempertemukan kita dalam versi dewasa dan bijak di tengah kematangan umur kita, untuk tetap saling bercengkerama. 

Ah, iya... Li, calon suami ku bernama Harry. Dia titip salam pada mu. 

Semoga e-mail mu masih tetap aktif ya...

Tuhan memberkati mu, Li!

Salam Kasih

-          Raniva

Tidak ada komentar:

Posting Komentar