Seperti biasa, lumrah rasanya di akhir-akhir begini akan
muncul 'evaluator-evaluator' muda. Mereka akan mempertanyakan setiap apapun
yang dikerjakan (secara) bersama-sama. Mereka akan banyak menuntut ini, itu,
disini, disitu. Tapi seperti pohon, makin tumbuh tinggi makin kencang angin
memburu.
Tapi terkadang si 'evaluator' mempertanyakan kinerja nya
sendiri di hadapan publik. Protes tentang sistem yang salah misalnya, atau
contoh lainnya adalah mengapa diskusi dan pelatihan tak terlaksana, padahal si
'evaluator' lah yang mesti ditanya-i dan menjawab-i. Membuat tanda tanya besar
atas orang lain sebelum menjawab pertanyaan yang bersifat 'urgent' atas diri
sendiri. Ini hal yang harus dihindari.
Padahal, jika menilik ke belakang dan membandingkan dengan
kekinian, ada kejadian 'regresif' yang harus dihindari. Bukan bermaksud
menyindir, dulu ketika aku masih berdiri di posisi mereka, sang 'evaluator',
aku selalu mendekatkan diri kepada pendahulu-pendahulu yang memang mumpuni di
aspek-aspek. Mereka kujadikan referensi yang selalu menjadi tempat untuk
berdiskusi, mengadu, sampai uring-uringan curhat. Mereka (referensi-ku) juga
tidak akan diam saja. Mereka akan memberi wejangan, nasihat, pandangan, sampai
problem solving terhadap akan yang aku suarakan. Dan tentu saja, yang paling
penting, yang mereka katakan adalah suatu yang berdasar, sistematis, dan
ber-kemanusiaan. Alhasil, sampai sekarang (meski tak sepenuhnya seperti
mereka), setidaknya sudah tertanam di hati dan jiwa ku untuk terus melakukan
hal-hal 'progresif' dan bertujuan, serta berdasar, juga ber-kemanusiaan.
Satu hal yang ku ingat pesan pendahulu ku, jangan jadi
sombong. Saat ini kita masih kerdil, masih bau kencur, masih harus ditempa ini
dan itu, masih harus banyak belajar. Selagi bisa, belajar lah, kapan saja,
dimana saja, dan dari siapa saja. Bentuk belajar juga ada banyak : melihat
adalah belajar, berbicara adalah belajar, mendengar adalah belajar,
mengevaluasi diri adalah belajar, menulis adalah belajar, membaca adalah
belajar, bertindak adalah belajar. Tapi dari semuanya, lebih banyak lah
melihat, dan menulis, dan membaca, dan bertindak dari pada berbicara. Seperti
Tuhan juga menciptakan dua mata, dua telinga, dua tangan, dua kaki, dan hanya
satu mulut.
Belajarlah lah terus, dengan belajar pun kita akan tahu
bahwa ada banyak sekali orang yang jauh lebih pintar dan cerdas, serta
berpengalaman di sekitar kita. Maka jangan angkuh, jangan arogan, rendah hati
lah.
Juga tanamkan ini di hati, seperti kata Sang Ki Hajar
Dewantara, "Setiap tempat adalah sekolah, setiap orang adalah guru."
Semoga kita segera tercerah-kan hati dan pikiran.
Selamat Sabtu :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar