Senin, 27 April 2015

Sang Evaluator

Seperti biasa, lumrah rasanya di akhir-akhir begini akan muncul 'evaluator-evaluator' muda. Mereka akan mempertanyakan setiap apapun yang dikerjakan (secara) bersama-sama. Mereka akan banyak menuntut ini, itu, disini, disitu. Tapi seperti pohon, makin tumbuh tinggi makin kencang angin memburu.

Tapi terkadang si 'evaluator' mempertanyakan kinerja nya sendiri di hadapan publik. Protes tentang sistem yang salah misalnya, atau contoh lainnya adalah mengapa diskusi dan pelatihan tak terlaksana, padahal si 'evaluator' lah yang mesti ditanya-i dan menjawab-i. Membuat tanda tanya besar atas orang lain sebelum menjawab pertanyaan yang bersifat 'urgent' atas diri sendiri. Ini hal yang harus dihindari.

Padahal, jika menilik ke belakang dan membandingkan dengan kekinian, ada kejadian 'regresif' yang harus dihindari. Bukan bermaksud menyindir, dulu ketika aku masih berdiri di posisi mereka, sang 'evaluator', aku selalu mendekatkan diri kepada pendahulu-pendahulu yang memang mumpuni di aspek-aspek. Mereka kujadikan referensi yang selalu menjadi tempat untuk berdiskusi, mengadu, sampai uring-uringan curhat. Mereka (referensi-ku) juga tidak akan diam saja. Mereka akan memberi wejangan, nasihat, pandangan, sampai problem solving terhadap akan yang aku suarakan. Dan tentu saja, yang paling penting, yang mereka katakan adalah suatu yang berdasar, sistematis, dan ber-kemanusiaan. Alhasil, sampai sekarang (meski tak sepenuhnya seperti mereka), setidaknya sudah tertanam di hati dan jiwa ku untuk terus melakukan hal-hal 'progresif' dan bertujuan, serta berdasar, juga ber-kemanusiaan.

Satu hal yang ku ingat pesan pendahulu ku, jangan jadi sombong. Saat ini kita masih kerdil, masih bau kencur, masih harus ditempa ini dan itu, masih harus banyak belajar. Selagi bisa, belajar lah, kapan saja, dimana saja, dan dari siapa saja. Bentuk belajar juga ada banyak : melihat adalah belajar, berbicara adalah belajar, mendengar adalah belajar, mengevaluasi diri adalah belajar, menulis adalah belajar, membaca adalah belajar, bertindak adalah belajar. Tapi dari semuanya, lebih banyak lah melihat, dan menulis, dan membaca, dan bertindak dari pada berbicara. Seperti Tuhan juga menciptakan dua mata, dua telinga, dua tangan, dua kaki, dan hanya satu mulut.

Belajarlah lah terus, dengan belajar pun kita akan tahu bahwa ada banyak sekali orang yang jauh lebih pintar dan cerdas, serta berpengalaman di sekitar kita. Maka jangan angkuh, jangan arogan, rendah hati lah.

Juga tanamkan ini di hati, seperti kata Sang Ki Hajar Dewantara, "Setiap tempat adalah sekolah, setiap orang adalah guru."

Semoga kita segera tercerah-kan hati dan pikiran.

Selamat Sabtu :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar