"Besarkanlah
seni mu, di tangan mu, di pundak mu!!!"
(Herman Suryadi, M.Pd)
Hey, sayang.. selamat hari Rabu. Selamat tanggal
empat. Sudah Maret, rupanya. Ternyata, waktu memang tidak pernah mau menunggu. Dia
berlari sangat cepat, tanpa permisi, tanpa peduli. Pantas saja, orang sering
sekali terbirit-birit karena waktu. Takut ketinggalan, takut kehabisan, takut
pada waktu. Oalah...
Oh ya, Sayang.. waktu menulis ini
aku lagi di Sekretariat WALHI. Aku mau temani si Uli kesini. Ku kira apa,
ternyata bukan mau apa-apa. Hanya berkunjung katanya. Ya sudah, daripada tidak
jadi apa-apa, aku hidupkan Laptop
lalu kutulis saja apapun biar bisa jadi apa.
Kumulai dari awal bulan Februari
yaa.. Katanya, sich itu bulan penuh kasih dan sayang. Tapi aku tidak sepenuhnya
setuju, loh. Kasih sayang itu ya tiap hari, tiap waktu,
tidak kenal siapa, apa, dan bagaimana. Kasih itu lembut, panjang sabar, murah
hati, tidak congkak, tidak mengharapkan balasan. Kalo hal-hal yang di atas
tidak ada, itu mah, bukan kasih
namanya. Lalu apa? Yaa, aku juga kurang tahu, deh, Sayang.
Jadi, hari kasih sayang yang
diperingati tiap tanggal 14 Februari itu sampai juga. Eh, tanggal itu tiba juga
loh ke perhimpunan kami, ke cabang kami, ke hati kami. Eh, tapi bukan mau
mendewi-kan moment-nya, hanya kebetulan
tanggal 14 itu berbarengan dengan kegiatan Masa Bimbingan kami, jadi ya sekalian
tuker-tukeran coklat harga tiga ribu-an, lah. Biar murah, asal meriah :D
Eh, tahun ini juga aku lumayan
banyak dapat coklat loh. Yang paling kece badai coklatnya, ya dari salah satu Abang
pendahulu di perhimpunan yang namanya gak mau disebutkan :p. Katanya, biar aku
semakin bijak memimpin, semakin semangat
melayani, dengan hati yang manis, seperti coklat itu. Aduh, terimakasih ya,
Abang. Semoga hidup mu juga berbuah manis. Pekerjaan sekarang semoga diberkati
di Ibu kota sana yaa.. J
Tapi di tanggal 14 itu, aku sebenarnya,
sih, curi-curi harap supaya kamu ngucapin “Selamat
hari kasih sayang” ke aku. Eh tapi, gak sampe-sampe message itu. Tapi ya udahlah, aku mah apah atuhh.. Aku fokus aja ke
kegiatan. Yang penting semua selesai sesuai dengan apa yang diharapkan. Praise the Lord...
Kulanjutkan lagi ke akhir bulan lalu
yaa.. Tepatnya tanggal 24-26 Februari aku ikutan “Bengkel Sastra: Pelatihan Penulisan
Pantun dan Praktik Berbalas Pantun” dari Kantor Bahasa Provinsi Bengkulu. Awalnya,
jujur saja, aku sich cuma mau
ikut-ikutan saja. Tapi setelah ikut sehari, pikir lagi, rugi sekali kalau cuma sekedar
ikut-ikut kayak marmut yang sok imut. Jadi, ku seriusin deh. Alhasil, sadar
betul kalau ternyata buat pantun itu susah bin sulit bin difficult.. hahahah.. Selama ini, aku sich, enteng-enteng aja kalau sekedar berpantun, tapi nyatanya pantun
‘gak semudah yang dibayangkan, Coy!! Ada
nilai-nilai estetika dan filosofi yang benar-benar harus diperhatikan. Gak sembarang,
donk.
Tapi ya karena susah, aku sampai sekarang
mana bisa langsung jadi expert. Masih
pembuat pantun ‘ecek-ecek ala abal-abal’.
Tapi ya, gak masalah donk, kata-nya Kak Rendra (si pemantun yang udah expert), walaupun ‘gak bisa-bisa amat, at least aku dan sekitar 49 peserta
lainnya sudah punya pemahaman bahwa Pantun itu bukan perkara kecil, loh. Harus punya
konsep. Mind mapping-nya juga
benar-benar harus tertata. Sampiran sama isi harus be-rima. Punya makna yang
dalam. Olah hati, olah rasa, olah pikir. Nah, loh.. susah kan? Si Uli aja
nyerah dan mengakui kalau Pantun itu bukan sesuatu yang kayak “piece of cake”.
Sayang, tapi usaha ku berbuah manis,
loh. Dari sekitar 50 peserta, aku jadi salah satu dari 15 besar yang akan
dilatih lagi untuk dipilih 2 orang mewakili Provinsi Bengkulu mengikuti lomba
Pantun di Jambi April nanti. Aduh, sebenarnya aku gak mau.. aku gak berharap,
tapi Tuhan sudah beri, jadi ku terima. Ah, makasih banyak ya, Tuhan. You’re rock!!
Nah, biar ada bukti kalau aku ikut Pelatihan pantun,
ini nih aku tulis pantun-pantun yang ku buat sendiri selama pelatihan. These are,
guys...
|
1.
Mandi
pagi badan pun segar
Lalu sarapan bersama Ria
Selamat pagi, Bapak Astar
Mohon izinkan saya bertanya
|
2.
Pergi
ke hulu jalan bersantai
Lihat merpati indah bersayap
Hendak tahu orang yang pandai
Ianya santun bertutur ucap
|
|
3.
Mendayung
sampan ke tepi
Berlayar ke negeri Cina
Perkenalkan nama saya Jerni
Si semok dari bumi Ralesia
|
4.
Buah
naga dimakan lebah
Kapal berlayar tanpa nahoda
Ini zaman sudah berubah
Kenapa rakyat tambah merana?
|
|
5.
Ikan
pais ditambah gula
Paling enak ditambah nasi
Rakyat sekarang banyak bertanya
Kenapa tak punah juga korupsi?
|
6.
Elok
niat warnanya laut
Ikan terbawa derasnya arus
Lihat wakil rakyat bertambah
gendut
Kenapa rakyat bertambah kurus?
|
|
7.
Burung
melayang gunung meninggi
Pergi ke hutan memetik buah
Saya lihat di televisi
Kok banyak anak tidak sekolah?
|
8.
Kanda
di hilir dinda di hulu
Bertemu kita di air mancur
Coba dulu tanya pak guru
Kenapa sekolah gedung nya
hancur?
|
|
9.
Paling
enak memakan tekwan
Tekwan dimakan memakai sambal
Wahai tuan nan rupawan
Ini pantun akan saya jual
|
10. Induk kucing tidur di aspal
Anak kucing bermain tali
Kalau tuan berani jual
Pantun tuan pun kami beli
|
|
11. Menangkap ikan di waktu sore
Ikn dibakar di kayu manis
Perkenalkan kami kelompok cabe
Orangnya manis pantunnya sadis
|
12. Lihat nona berbaju seksi
Naik sepeda berwarna-warni
Nona tanya hapus korupsi?
Ya harus dari diri sendiri
|
|
13. Siang-siang memakan nasi
Makan bakwan di sore hari
Nona tanya perbaiki korupsi?
Petinggi saja mana peduli
|
14. Anak raja bermain kuda
Lari ke hutan tertusuk duri
Jika kanda diputus cinta
Carilah saja pengganti hati
|
|
15. Burung melambai di pulau Jawa
Burung merak bulu nya cantik
Yakinlah kanda Ayah berkata
Pastilah dapat yang lebih baik
|
|
Nah, sayang.. jadi ada 15 pantun
yang kubuat selama pelatihan. Tapi ada beberapa pantun yang ku buat lisan ketika
tiba saatnya praktik berbalas pantun. Hhmmm... pantun nya masih pakai diksi yang
kurang cantik ya?? Ya maklumi saja ya.. aku masih pemula J
Oh ya, sayang.. skripsi mu bagaimana? Sudah tahap
apa? Kalau aku, seperti yang kamu bilang, sedang kasmaran sama skripsi. Tapi taulah
aku, suka menunda-nunda, sampai sekarang masih keseringan menunda. Jadi yah,
kamu taulah bagaimana..hehe.. Teman-teman ku, ada beberapa yang sudah sidang,
sudah sarjana. Sedang aku, masih suka sibuk sendiri dan lagi-lagi menunda. Tapi
tak apalah, teman-teman memaafkan karena aku punya kesibukan di perhimpunan. Walaupun
mereka kadang elus dada kalau aku jawab aneh-aneh ketika ditanya skripsi. Sampai
Mam Hilda, salah satu dosen kami bertanya pada ku, “When is your turn, Je?” Sumpah pertanyaan itu benar-benar ‘jleeb’...hahaha....
Tapi itu salah satu bentuk perhatian dari dosen ke mahasiswa-nya. Terimakasih,
ya, Mam Hilda. Tetap cantik, tetap sehat yaa.. J
Duh, Sayang.. sudah sore rupanya. Aku masih harus
pergi lagi. Tulisan ini, aku yakin benar-benar hambar dibaca. Aku buatnya
buru-buru, sih. Lagi-lagi soal
dikejar waktu. Eh, sayang.. doakan aku ya.. supaya aku semakin bersahabat
dengan waktu. Supaya tidak tiba-tiba ditinggalkan, tidak secara diam-diam
diabaikan, oleh waktu. Satu hal lagi, aku punya misi loh, Sayang. Tapi tidak
untuk diucap, tapi semoga kamu merasa ya, Sayang. Kalau tidak bisa dirasakan,
ya sudah, dinikmati sajalah.
Biar agak puitis ala romantis, ada satu quote nih, it’s my own quote, loh.. haha : “Aku mendoakan mu di tiap-tiap
lipatan tangan dan tundukan kepala. Aku menyerahkan mu pada Sang Pemilik
Kesempurnaan Cinta. Aku mengasihi mu.” Eh, ada satu lagi nih.. tapi
yang ini gak tau aku dapat dari mana. Tapi ku bilang ke Marya, ini buat ku
tulis di halaman Motto di Thesis ku nanti kalau sudah di cetak.. hehehe.. Ini
loh : “I am ready for the consequences. I am the actor on my own movie. I am
the director on my own script.”
Ya sudah sayang, selamat Rabu sore. Disini langitnya
cerah, semoga disana juga. Tuhan memberkati mu J
Rabu senja, 4 Maret 2015. 18.41 WIB
Sekretariat WALHI Kota Bengkulu bersama Uli. J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar