Senin pagi, 30 Maret 2015
Menunggu Bus
“Ku terpikat
pada tuturmu, aku tersihir jiwamu. Terkagum pada pandangmu, caramu melihat
dunia. Ku harap kau tahu bahwa ku, terinspirasi hatimu. Ku tak harus memilikimu,
tapi boleh kah ku slalu di dekatmu?” (Raisa, Jatuh Hati)
Hai, Sayang... Selamat pagi,
Kamu.. Juga, selamat hari Senin, ya... Biasanya kita saling memberi ucapan
hangat di pagi hari. Lalu bertanya tentang apa yang akan dikerjakan seharian
ini. Lalu saling memberi semangat, memotivasi masing-masing kita.
Sayang, sudah cukup lama kita
tidak saling bertanya soal kabar. Sudah cukup lama aku merasa kamu abaikan.
Sudah cukup lama juga aku merasa seperti orang kebingungan tanpa tentu arah
menunggu kepastian. Sayang, jelas kamu tahu, aku menunggu apapun darimu. Aku
menunggu pesan mu, aku menunggu pertanyaan-pertanyaan dari mu, aku menunggu
kalimat-kalimat jenaka mu, aku menunggu nasihat bijak mu, apapun sayang,
apapun. Asalkan dari mu, aku menunggu.
Sudah ku bilang ‘kan aku
menunggu? Analogi nya seperti aku sedang berdiri di halte bus, menunggu dengan
sepenuh hati bus yang ku nanti singgah di halte, lalu aku naik. Aku menunggu
dengan menggebu, dengan segala macam perasaan di hati. Yang jelas, aku
menunggu. Tapi, setelah sekian lama, aku sadar, bukan aku saja yang sedang
menunggu bus itu. Di samping kiri dan kanan ku, orang-orang banyak juga
menunggu akan bus, dengan cara dan tujuan mereka masing-masing. Jadi, aku
sedang dalam persaingan. Siapa yang cepat, dia yang akan naik bus dan menuju
tempat tujuan selanjutnya.
Namun, setelah sekian lama
menunggu, rupanya menunggu ku belum bisa dibilang apa, Sayang. Orang-orang lain
itu (yang juga sedang menunggu bus), rupanya punya hal yang lebih penting untuk
lebih dulu menaiki bus. Aku mengalah saja, aku menyerah saja. Bus datang, aku
biarkan, aku lepaskan. Tapi aku tetap berdiri di halte.
Sayang, belum lama memang aku
menunggu mu. Jika dihitung dengan hitungan bulan, sekitar empat bulan belum
genap ini aku menunggu. Tapi dalam waktu yang sebentar ini, telah ada banyak perasaan
yang tertoreh. Ada banyak sekali cerita-cerita yang bisa ku kenang.
Percakapan-percakapan yang hangat, nasihat yang menginspirasi, penguatan atas
lemahnya hati. Wah, banyak sekali loh, Sayang.
Sayang, aku juga banyak dapat
hal baru dari mu. Aku banyak kagum pada mu. Aku terpikat. Aku jatuh hati. Empat
bulan sudah cukup untuk kumantapkan bahwa kamu adalah orang yang benar-benar
tepat dan pantas. Tapi, seperti bus tadi, kamu harus ku lepaskan. Banyak sekali
hal yang harus kamu kerjakan lebih dulu, banyak sekali impian yang mesti kamu
wujudkan, dan tinggi sekali harapan orang-orang terdekat mu atas mu. Kamu harus
melakukan pekerjaan besar, tentu tidak pada perasaan seorang anak perempuan
yang belum setahun kamu kenal yang tinggal di kota yang berbeda. Jelas tidak.
Apalagi, sekarang kita semakin
tambah jauh. Sapaan di BBM benar-benar
tak ada maknanya. Pernah suatu ketika, hampir seminggu kita tidak saling
menyapa di BBM, lalu karena rindu,
aku mengumpulkan banyak keberanian untuk menyapa mu lebih dulu dengan sapaan
hangat. Tapi kamu dingin. Sangat dingin. Kamu balas sapaan itu sekenanya saja.
Kau tahu, waktu membaca itu hati ku jadi terasa tak enak, tak tahu karena apa.
Yang ku tahu ini kecewa. Tapi kusembunyikan kecewa itu dengan banyak cara.
Ah, Sayang.. bagaimanapun kamu
harus kulepaskan. Kamu, bus yang harus kubiarkan pergi. Kamu punya banyak
urusan, jadi tidak punya waktu untuk penunggu halte seperti aku. Selama empat
bulan belum genap ini, nama mu telah menjadi salah satu nama yang kusebutkan
dalam tiap-tiap lipatan tangan dan tundukan kepala, dalam tiap doa ku, mulai
sekarang aku hentikan. Aku lepaskan. Akan ada yang lain, Sayang.
Jadi, setelah keberangkatan bus
yang ku biarkan itu, setelah kulepaskan kamu, aku masih saja tetap menunggu di
halte. Di halte ini, sembari menunggu, aku bisa saling menyapa dengan penunggu
bus lainnya, saling bercerita sambil tertawa. Lalu, aku akan menunggu bus lagi.
Entah itu menunggu kembalinya kamu, atau mungkin aku akan menunggu bus
selanjutnya saja, aku belum tahu pasti. Yang jelas, selama perjalanan mu, di
dalam petualangan mu, jangan pernah lupa untuk berbahagia. Juga,
berhati-hatilah. Semoga hari-hari mu baik, semoga sukses.
Sayang, buat aneka rasa selama
empat bulan berharga ini, terima kasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar