Hey, Sayang !! Wah, benar-benar sudah sangat
lama tidak menulis dan menyapa. Ini buka karena aku sengaja, tapi rutinitas nya
benar-benar menyita waktu dan perhatian. Sayang, selamat hari Kamis, ya. Sudah di
penghujung tahun sekarang. Harus ada resolusi lagi, perubahan lagi, peningkatan
lagi.
Sayang, sambil menulis ini aku tahan-tahan
sakit loh. Kemarin sore aku sial lagi menabrak mamang tukang galon. Aku mau
berangkat ke Gereja bertemu anak-anak Sekolah Minggu, tapi mau bilang apa lagi,
sudah jatuh. Jadi sekarang kaki ku sangat bengkak, susah sekali berdiri,
apalagi berjalan. Tambah lagi, sore ini meriang kambuh lagi. Sudah pakai baju
hangat berlapis-lapis tapi masih merasa menggigil. Untung saja, si Ibu kasih Paracetamol meski sambil ngomel-ngomel
mengungkit-ungkit kerja yang ku lalui di waktu-waktu kemarin. Katanya ini salah
ku lah, kurang istirahat, banyak ke luar, sering pulang subuh, sekarang
sakitnya numpuk. Aduh, semakin sayang sama si Ibu.
Sayang, hari ini hari yang
benar-benar berat buat ku. Aku ujian PPL hari ini. Sebelum ujian sepertinya
harus dilalui dulu ujian-ujian lain yang benar-benar bikin kepala makin pening,
kaki makin bengkak. Oalah, aku benar-benar harus bertahan dan punya hati yang
kuat buat hadapi ini. Kamu tahu, Sayang,
karena kaki bengkak ini aku harus diantar-jemput sama si Bapak. Aku belum kuat
untuk berangkat ke sekolah sendiri. Kalo ku paksa, pasti ada lagi bagian tubuh
ku yang berbaret ato bengkak. Lagipula pagi tadi hujan nya deras, butirannya
besar-besar, dan suara hujannya betulan keras. Daripada basah, ku bujuk lah si
Bapak untuk antar-jemput. Aduh, semakin sayang sama si Bapak.
Ternyata belum selesai sampai
disitu, Sayang. RPP ku ketinggalan di rumah. Benar-benar!! Jadi dengan segala
keterpaksaan dan kesakitan ku bujuk lagi si jutek, Reinsi untuk boncengkan aku
ke warung internet terdekat. Kami ngebut ditengah gerimis yang sama sekali gak
romantis. Sambil nge-print RPP sial
itu, aku harap-harap cemas bagaimana jika dosen penguji ku bosan menunggu lalu
marah, lalu pergi, lalu aku batal ujian. Ya Tuhan, ini benar-benar!!
Abang penjaga warnet-nya juga lama. Nge-print nya benar-benar lama, astaga!! Lalu
setelah selesai, aku ingat si Mbak Ana lupa bawa speaker, padahal kan aku ujiannya pakai lagu, bagaimana mau
kedengaran lagunya kalo tidak dibantu speaker.
Jadi dengan gaya sok PD aku pinjem itu speaker
sama si abang warnet. Mungkin karena liat muka maha jelata ku, akhirnya dia
pinjam kan barang itu ke aku. Abang warnet, terimakasih.
Setelah nge-print, masih ada lagi yang benar-benar bikin tenaga ku rasanya
habis seketika, Sayang. Sepatu ku rusak parah. Faktor hujan mungkin. Jahitannya
lepas, tak berbentuk dan jelas tak bisa dipakai lagi. Sampai di sekolah, si Eda
lagi ngomel-ngomel suruh aku lebih cepat. Aduh, Eda cantik, keadaan ku tak
mamungkinkan untuk bisa lebih cepat dari apa yang sudah ku lakukan. Oke,
lupakan Eda, kembali ke sepatu. Untunglah si cerewet Chintiya rela flat shoes nya aku pinjam dulu. Chintiya,
terimakasih.
Si baik Bian, juga membantu membawa laptop dan speaker. Dia benar-benar teman PPL yang baik. Sampai lah ke kelas
7C. Dosen penguji ku yang super gaul, Mam Esti sudah duduk santai sambil
bercerita sama Mbak Ana sama si ngeselin, Dio. Aku minta maaf, lalu Bian bilang
kalau Guru Pamong ku pergi tak tau ke mana. Astaga, Mam Pitri, aku ujian dan
Mam pergi begitu saja, benar-benar tak abis pikir!! Sambil sakit dan takut aku
bilang ke dosen kalo guru pamong ku gak ada. Untunglah, dosen jawab, “Okay, No
problem. We can do this without her”. OMG, benar-benar terima kasih ke Dosen
satu ini. Then, I did my teaching test
without Mam Pitri.
Kamis ini, setelah aku selesai
dengan ujian, aku merenung sambil menunggu jemputan si Bapak. Sebenarnya, Tuhan
benar-benar telah melatih ketahanan hati ku hari ini. Aku, tidak pernah boleh
utnuk menyerah pada apapun sampai pada titik terakhir. Ini juga ada hubungannya
dengan lagu yang ku perdengarkan ke anak-anak saat ujian tadi. I won’t give up on us, even if the skies get
rough. Dari lagu itu aku dan anak-anak 7C sama-sama memaknai kata-kata itu.
Aku, kami, tidak akan pernah ingin berhenti untuk berusaha meski jika langit
mulai menghitam. Jujur, saat di warnet aku sudah bilang ke Reinsi untuk
menyerah pada ujian hari ini. Tapi lagi-lagi aku harus berusaha. Lau semua jadi
terlaksan. Dan, usaha hari ini setidaknya semakin menguatkan hati. Ujian PPL
dengan kaki bengkak dan pincang, tanpa guru pamong, sepatu dan speaker pinjaman. Ah, hari ini
benar-benar berbekas, tak terlupakan.
Dan untuk menutup Kamis malam ini,
ku ucapkan ribuan terima kasih untuk semua orang yang jadi ikut-ikutan terlibat
karena ujian ku tadi. Terima kasih untuk Ibu, atas omelan, paracetamol¸dan air hangatnya. Terima kasih untuk Bapak, atas
antar-jemput dan kelembutan hati nya
mendengar ku mengeluh karena kaki bengkak dan cuaca yang tidak bersahabat. Terima
kasih untuk Reinsi atas boncengan dari sekolah-warnet lalu warnet-sekolah. Terima
kasih untuk Chintiya yang rela meminjamkan sepatu mengajarnya untuk ku. Terima kasih
untuk dosen penguji ku, Mam Esti yang benar-benar mengerti dan peduli. Terima kasih
untuk guru pamong, Mam Pitri yang meski tidak mendampingi ujian ku tapi tetapi
tetap lembut tersenyum. Terima kasih untuk anak-anak ku siswa-siswi kelas 7C
yang hari benar-benar jadi baik dan penurut sehingga ujian ku jadi lancar meski
telambat lebih dari setengah jam. Terima kasih untuk Marina, atas pinjaman
sendal jepitnya, jadi aku masih bisa pulang dengan beralas kaki. Terima kasih
buat Kavka, gadis cantik kelas 4 SD yang Bahasa Inggris nya sudah sangat bagus
sehingga jadi pusat perhatian di sekolah. Untuk suaranya yang cantik secantik
rupa.
Terakhir, aku mau berterima kasih buat Dia. Satu-satunya
orang yang tetap memberi support dan
berkata “Semangat!!” ketika yang lain bilang “Makanya hati-hati”. Terima kasih
buat 20 menit yang jadi 2 jam saling bincang tentang apapun. Aku jadi merasa
punya abang dan sahabat yang baik.
Lalu,
terima kasih buat semuanya, Tuhan. Ini benar-benar mendebarkan, luar biasa!!
Selamat
Kamis, Sayang !!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar