Sembilan belas Mei dua ribu
empat belas......
Sayang, sore ini banyak diisi dengan hujan. Hujannya
sangat deras dan lama. Butir-butir hujannya amat keras menghujam wajah ku waktu
pulang kuliah tadi. Tapi, aku selalu suka hujan, Sayang. Ketika hujan datang,
hati ku jadi hangat dikala terbayang wajah sendu mu di ujung jalan di mana aku
sedang berdiri. Aku suka hujan, sangat suka. Sama seperti aku menyukai mu.
Namun, hujan sore ini beda, Sayang. Aku biasanya tersenyum
nyaman saat mereka datang. Hujan sore ini, tak seperti biasanya. Aku seperti
tersenyum getir. Aku dihampiri seorang bocah disela-sela makan sore ku, di
tengah menikmati hujan ku pada raut mu. Bocah itu, duduk di depan
serambi-serambi tempat ku makan. Berbaju lusuh, berwajah sayu. Warna pakaiannya
biru dan abu-abu. Jari tangannya ada tujuh, bukan sepuluh. Dia sendirian, juga.
Sayang, kuperhatikan dia sebentar. Ketika hujan mulai
mengeras, dia mulai mencari tempat perlindungan. Dia menyebrang ke jalan
sebelah, hati-hati, memperhatikan ke kanan dan ke kiri, kalau-kalau ada
kendaraan lewat. Saking hati-hatinya, bocah itu berjalan lambat, ragu-ragu. Dia
hampir tertabrak mobil mewah merah hati
yang dengan beringas nya membunyikan suara klakson keras, memekakkan telinga.
Lagi-lagi, dia sendirian.
Makin kuperhatikan dia, Sayang. Ku lihat rasa bersalah
pada raut wajah bocahnya. Dia mundur menuju tempat awal nya berdiri, menghindar
dari cacian si pengendara. Hujan masih saja turun dari singgasana kebesarannya.
Hujan tidak peduli kalau bocah itu kebingungan. Orang-orang juga tidak. Dia,
tetap sendirian.
Lama, dia berdiri di tempat semula. Di antara deras hujan,
dihalaunya angkutan umum. Dia mau pulang, sepertinya. Tapi bahkan pengendara mobil umum berwarna hijau
itu pun tidak peduli pada bocah kebasahan itu. Beberapa mobil dihalaunya, satu
pun tak bergeming. Mobil-mobil itu melewatkannya. Tak memperdulikannya.
Kemudian, dia berjalan menjauh. Tetap saja sendirian.
Diantara rintik hujan, dia berlalu menjauh dari jarak
tangkap mata ku. Dia mungkin masih mencari tempat yang nyaman untuk tubuhnya,
menghindari hujan. Tapi, rupanya dia datang lagi, Sayang. Dia jadi mendekat
lagi ke serambi-serambi dekat ku. Dia menunjuk mie goreng sisa makan teman ku.
Tapi itu tidak boleh, itu makanan sisa. Mana tega aku memberi dia makanan sisa
orang. Tapi, tetap saja ditunjuk-tunjuk makanan sisa itu dengan jari-jari
tangan kiri nya yang sudah tidak ada
jari tengah nya itu.
Sayang, tak berapa lama dia berlalu. Kali itu benar-benar
berlalu, pergi menjauh dari mata ku. Dia tidak kembali lagi setelah itu. Aih,
aku benar-benar payah. Aku menyesal. Aku seperti perempuan tak berhati, tapi
selama ini sok membicarakan nurani. Aku, bahkan tak melakukan apapun untuk
bocah kedinginan itu. Harusnya aku berterima kasih pada bocah tujuh jari itu.
Pada dia, aku seharusnya bisa melakukan perbuatan baik, perbuatan yang
manusiawi. Tapi aku melewatkannya, kesempatan itu ku buat jadi sia-sia.
Kalau saja, di kota ini ada Bunda Theresa seperti di
Kalkuta, India, mungkin Bunda Theresa akan menjadi orang pertama yang memeluk
nya, memberi handuk pada tubuh basah berhujannya, memberi dia mie goreng seperti
yang diingininya di kala lapar pada hari dinginnya. Tapi tidak ada yang seperti
Bunda itu di sini, di tempat bocah tujuh jari itu berdiri.
Sayang, aku perempuan payah bukan? Aku mengecewakan. Aku
tidak ada menerapkan hukum kasih seperti
yang sering ku ajarkan pada anak-anak sekolah minggu dulu. Aku hanya banyak
meminta tanpa mau berbuat. Aku menyesal. Tapi, apa yang bisa ku buat dengan penyesalan
ku sekarang? Bocah tujuh jari itu mungkin masih kelaparan sekarang, tapi tetap
tidak dapat kutemukan.
Sayang, semoga saja kamu bertemu dengan bocah itu. Dia
bocah yang tampan, sayang. Jarinya ada tujuh, empat jari pada tangan kiri, lalu
tiga jari di kanan. Dia sering berjalan
tanpa teman, sendirian. Menyusur jalan semau hati, kemana pun ia mau pergi.
Ketika kamu melihatnya, kamu pasti bisa mengenalinya, Sayang. Dan mungkin
ketika kamu bertemu dengan-nya, dia masih sangat ingin makan mie goreng, seperti
saat dia bertemu dengan ku sore ini...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar