Selasa, 20 Mei 2014

Bocah Tujuh Jari



Sembilan belas Mei dua ribu empat belas......
Sayang, sore ini banyak diisi dengan hujan. Hujannya sangat deras dan lama. Butir-butir hujannya amat keras menghujam wajah ku waktu pulang kuliah tadi. Tapi, aku selalu suka hujan, Sayang. Ketika hujan datang, hati ku jadi hangat dikala terbayang wajah sendu mu di ujung jalan di mana aku sedang berdiri. Aku suka hujan, sangat suka. Sama seperti aku menyukai mu.
Namun, hujan sore ini beda, Sayang. Aku biasanya tersenyum nyaman saat mereka datang. Hujan sore ini, tak seperti biasanya. Aku seperti tersenyum getir. Aku dihampiri seorang bocah disela-sela makan sore ku, di tengah menikmati hujan ku pada raut mu. Bocah itu, duduk di depan serambi-serambi tempat ku makan. Berbaju lusuh, berwajah sayu. Warna pakaiannya biru dan abu-abu. Jari tangannya ada tujuh, bukan sepuluh.  Dia sendirian, juga.
Sayang, kuperhatikan dia sebentar. Ketika hujan mulai mengeras, dia mulai mencari tempat perlindungan. Dia menyebrang ke jalan sebelah, hati-hati, memperhatikan ke kanan dan ke kiri, kalau-kalau ada kendaraan lewat. Saking hati-hatinya, bocah itu berjalan lambat, ragu-ragu. Dia hampir tertabrak mobil mewah merah  hati yang dengan beringas nya membunyikan suara klakson keras, memekakkan telinga. Lagi-lagi, dia sendirian.
Makin kuperhatikan dia, Sayang. Ku lihat rasa bersalah pada raut wajah bocahnya. Dia mundur menuju tempat awal nya berdiri, menghindar dari cacian si pengendara. Hujan masih saja turun dari singgasana kebesarannya. Hujan tidak peduli kalau bocah itu kebingungan. Orang-orang juga tidak. Dia, tetap sendirian.
Lama, dia berdiri di tempat semula. Di antara deras hujan, dihalaunya angkutan umum. Dia mau pulang, sepertinya. Tapi  bahkan pengendara mobil umum berwarna hijau itu pun tidak peduli pada bocah kebasahan itu. Beberapa mobil dihalaunya, satu pun tak bergeming. Mobil-mobil itu melewatkannya. Tak memperdulikannya. Kemudian, dia berjalan menjauh. Tetap saja sendirian.
Diantara rintik hujan, dia berlalu menjauh dari jarak tangkap mata ku. Dia mungkin masih mencari tempat yang nyaman untuk tubuhnya, menghindari hujan. Tapi, rupanya dia datang lagi, Sayang. Dia jadi mendekat lagi ke serambi-serambi dekat ku. Dia menunjuk mie goreng sisa makan teman ku. Tapi itu tidak boleh, itu makanan sisa. Mana tega aku memberi dia makanan sisa orang. Tapi, tetap saja ditunjuk-tunjuk makanan sisa itu dengan jari-jari tangan kiri nya yang  sudah tidak ada jari tengah nya itu.
Sayang, tak berapa lama dia berlalu. Kali itu benar-benar berlalu, pergi menjauh dari mata ku. Dia tidak kembali lagi setelah itu. Aih, aku benar-benar payah. Aku menyesal. Aku seperti perempuan tak berhati, tapi selama ini sok membicarakan nurani. Aku, bahkan tak melakukan apapun untuk bocah kedinginan itu. Harusnya aku berterima kasih pada bocah tujuh jari itu. Pada dia, aku seharusnya bisa melakukan perbuatan baik, perbuatan yang manusiawi. Tapi aku melewatkannya, kesempatan itu ku buat jadi sia-sia.
Kalau saja, di kota ini ada Bunda Theresa seperti di Kalkuta, India, mungkin Bunda Theresa akan menjadi orang pertama yang memeluk nya, memberi handuk pada tubuh basah berhujannya, memberi dia mie goreng seperti yang diingininya di kala lapar pada hari dinginnya. Tapi tidak ada yang seperti Bunda itu di sini, di tempat bocah tujuh jari itu berdiri.
Sayang, aku perempuan payah bukan? Aku mengecewakan. Aku tidak ada  menerapkan hukum kasih seperti yang sering ku ajarkan pada anak-anak sekolah minggu dulu. Aku hanya banyak meminta tanpa mau berbuat. Aku menyesal. Tapi, apa yang bisa ku buat dengan penyesalan ku sekarang? Bocah tujuh jari itu mungkin masih kelaparan sekarang, tapi tetap tidak dapat kutemukan.
Sayang, semoga saja kamu bertemu dengan bocah itu. Dia bocah yang tampan, sayang. Jarinya ada tujuh, empat jari pada tangan kiri, lalu tiga jari  di kanan. Dia sering berjalan tanpa teman, sendirian. Menyusur jalan semau hati, kemana pun ia mau pergi. Ketika kamu melihatnya, kamu pasti bisa mengenalinya, Sayang. Dan mungkin ketika kamu bertemu dengan-nya, dia masih sangat ingin makan mie goreng, seperti saat dia bertemu dengan ku sore ini...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar