Selasa, 20 Mei 2014

Jalan Kaki dan Aroma Kopi



Minggu malam, 5 Januari 2014
Selamat malam. Malam ini aku kembali dengan kisah ku hari ini. Hari ini dibuka dengan membuka kedua mata ku, lalu bergegas melakukan tugas-tugas pagi ku. Namun, hari ini ada hal yang cukup membuatku bahagia sesaat. Hari ini, sahabat baik ku sekaligus abang ku mengajak ku menonton salah satu film di bioskop. Kami menonton film bersama yang membuat kami saling bahagia. Dengan alur cerita yang cukup menarik, cukup membuat kami menceritakan bagian demi bagian manis yang terngiang di hati kami masing-masing. Menyatakan kepuasan atas apa yang kami lihat, dengar, dan membuat kami merasa.
Tak cukup disitu, kami juga berfoto bersama. Lalu sambil berjalan kaki memegang secangkir ice capucino ditemani roti dengan aroma yang sama. Kami berjalan, bercerita, bergurau, seolah tak ada beban berat di pundak yang harus ditanggung. Kami lupa akan kewajiban-kewajiban kami yang lain yang tak kalah pelik mengganggu pikiran kami, menyempitkan hati. Kami tak peduli akan keadaan sekitar. Saat itu, yang kami tahu adalah kami sedang berbagi pengalaman manis. Saling mengisi dengan cerita-cerita yang kami punya satu sama lain. Dan yang paling penting adalah, kami bahagia...
Hari ini, dari segala kisah yang kami rasakan, bagian terbaik adalah perjalanan dengan kedua kaki kami sendiri,  yang ku pikir adalah perjalanan kami yang singkat namun hangat. Hanya berjarak kira-kira 150 meter. Bahkan sebenarnya ada jalan lain yang lebih singkat, namun rasanya jalan yang kami pilih adalah jalan yang terbaik untuk kami saling berceritera, saling bercanda, mengejek. Hari ini, aku benar-benar bahagia. Aku senang bisa merasakan betapa aku punya seorang sahabat dan abang yang baik yang dapat menjadi tumpuan cerita-cerita ku, pahit dan manis.
Abang, terima kasih untuk hari ini. Kapal Van Der Wirjk yang kita tonton di bioskop tadi boleh saja tenggelam, namun ku pikir kebahagiaan kita akan terus mengapung bersama kebahagiaan-kebahagiaan lain yang akan menanti kita di masa depan nanti. Terima kasih untuk semangkok baksonya, untuk dua tiket film nya, untuk foto box nya, untuk ice capucino cincau nya, untuk roti aroma kopinya, untuk ejekannya, untuk tawanya, untuk senyumannya, untuk jalan kakinya, dan untuk kehangatannya. Walaupun di akhir perjalanan kita tadi, kita memilih jalan yang berbeda, aku ke kanan dan abang ke kiri, tapi tidak bermakna apa-apa akan perbedaan itu. Intinya, tujuan kita sama dan satu. “Aku dan kamu akan bersahabat, bersahabat sampai mati. Apa yang kamu makan, itu pula yang aku makan...” selamat tidur, bang... selamat tidur sahabat ku. Mimpi indah ya... Tuhan memberkati  J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar