Sabtu malam, 04 Januari 2014.
Malam ini, malam minggu pertama di tahun ini, tahun 2014.
Berhujan, basah, dan lagi-lagi sepi. Malam ini, aku kembali membuka akun
Facebook ku. Ku lihat disana, dia menyukai status terakhir ku. Status ku
untuknya. Status yang kutulis karena kepergiannya kembali ke kampung
halamannya, ke keluarga nya, ke masa kecil nya. Tapi aku tidak menyangka dia
akan menyukai itu. Ku pikir, dia hanya sekedar melihat, lalu merasa dengan
hatinya, bahwa itu memang untuknya. Hmmmmm.... tidak bisa dipungkiri, aku masih
cukup menyukai dia, abang seperhimpunan. Meski tidak begitu suka seperti dulu.
Tapi, setidaknya sudah hampir 2 tahun kami bersama, disitu jugalah aku berusaha
memendam perasaan ku padanya.
Malam ini, seperti biasa tanpa diduga dia memulai percakapakan
dengan ku melalui Facebook. “Happy New Year Jeje....” singkat, padat, dan
sepertinya tak berarti apa-apa untuknya. Hanya, mungkin saja Cuma aku yang
begitu antusias melihat pesannya. Namun aku mencoba untuk biasa, masih belum
rela kalau ia tahu sepenuhnya bahwa aku pernah menyukainya. Aku takut bahwa aku
akan seperti teman perempuan ku. Teman seperhimpunan kami juga. Hanya saja, ia
baru bergabung tahun 2013 lalu. Ia cantik, manis, khas wajah keayuan. Karena
kelebihan fisiknya jualah mungkin, akhirnya sang Abang terpikat. Lalu mencoba
mendekati si gadis ayu. Namun malang, berdasarkan kabar yang kudengar, ia
ditinggalkan ke Medan ketika ia sudah mulai membuka hatinya pada pria itu.
Kasihan.... itulah sebabnya aku tak mau ia secara terang-terangan tahu perasaan
ku. Aku takut ketika ia tahu terang-terangan, maka aku pun terang-terangan
ditolak. Sudah sangat sering ditolak, aku sudah tidak mau, tidak ingin. Cukup
sakit, jadi aku tidak ingin coba merasakannya lagi.
Malam ini, aku berjanji lagi, meski sepertinya sudah banyak
kali aku berjanji untuk ini. Aku berjanji sungguh, aku akan menutup kisah
bersama si Abang seperhimpunan ku. Aku akan selesai dengannya. Cukup saja
kenangan kemarin. Aku sudah menyerah untuknya. Mulai saat ini, aku akan kembali
ke perasaan sebelum aku menyukainya. Sebatas kakak dan adik. Cukup. Kenangan
bersama dia akan menjadi kenangan yang manis yang akan menjadi cerita hangat
ketika kami kelak bertumbuh dan kembali bertemu. Ia akan bahagia dengan
pasangannya nanti, dan aku akan sangat bahagia dengan kehidupan ku di masa yang
akan datang.
Selamat jalan, cinta masa kuliah ku. Akhirnya, memang
benar-benar harus terhenti disini. Maaf, ketika aku tidak ada menjenguk mu saat
sakit, sebelum akhirnya kau berangkat ke kota asalmu. Maaf juga,sebagai adik
aku tidak ikut mengantar kepulanganmu kemarin, tepat jam 7 pagi. Tapi aku
bersyukur mengenal mu, Bang. Terimakasih untuk semua kisah manis dan pahit yang
sudah tertoreh dalam lembaran kisah hidup ku. Terima kasih telah memberi
debaran jantung pada masa lalu. Terima kasih karena sudah mengajari aku banyak
hal, sudah membantu pekerjaan ku di perhimpunan, sudah menguatkan ku ketika aku
menangis. Terima kasih banyak. Sungguh terima kasih. Selamat tinggal ......
Tidak ada komentar:
Posting Komentar