Subuh, tanggal enam-belas, bulan lima, tahun dua-ribu-empat-belas
...
Sayang, kudengar dari orang-orang, ketika kita jatuh cinta
pada seseorang, kita pasti ingin tahu apapun yang terjadi pada orang yang telah membuat hati kita
berdebar tak menentu. Kita ingin tahu sedang apa dia, bagaimana perasaannya, lalu
apa yang sekarang dia makan. Pertanyaan-pertanyaan aneh yang muncul di benak
kita tentang orang yang kita sukai itu. Memikirkan dia, merindukan dia, punya
banyak rencana dengan dia. Aahhh, itulah cinta...
Sayang, kau tahu ‘kan kalau aku masih menyukai mu? Sangat menyukai-mu,
malah. Sudah hampir enam tahun, sayang. Selama enam tahun ini juga aku masih
memikirkan-mu, merindukan-mu, lalu punya banyak rencana liar yang ingin kulakukan bersama-mu. Setiap hari, aku selalu jatuh
cinta padamu, sayang. Itu setiap hari. Setiap hari pula aku selalu mencari tahu
tentang diri-mu, hidup-mu, bahkan hati-mu. Kau tahu, sayang.. selama beberapa tahun
belakangan ini pula, aku diam-diam membuka-buka akun Facebook mu. Aku lihat setiap yang tertera, ku-maknai, lalu
ku-tarik kesimpulan sendiri. Seperti melakukan eksperimen hati secara sembunyi-sembunyi.
Beberapa jam yang lalu, waktu ku lihat akun mu, aku sedikit
kecewa, sayang. Tidak, aku sangat-sangat kecewa! Aku baca status terakhir yang kau
tulis. Kau, sepertinya sedang jatuh cinta. Tapi Sayang, aku sepertinya juga masih
merasa cemburu. Pun sudah berkali ku ikrarkan pada hati jika tak akan lagi
mengharap mu, nyata nya, aku masih saja meradang hati saat ku lihat status mu
yang itu. Aku punya banyak pertanyaan saat melihat itu, “apa status itu untuk-ku? Siapa perempuan itu? Apa spesialnya perempuan
itu?” Dan sederet pertanyaan gila lain yang terus bergerilya di otak ku.
Tunggu. Aku bukan hanya kecewa, atau cemburu saja, sayang. Aku
juga marah. Aku sangat marah. Aku benar-benar marah sekarang. Aku marah karena
seperti sia-sia saja penantian hati ku pada hati mu. Aku sudah menanti hampir enam
tahun. Enam tahun, sayang. Enam tahun itu sudah lebih dari lima tahun, bukan? Tapi
enam tahun itu ternyata belum sanggup membuat mata mu sedikit menoleh kesamping
dan melihat ku yang sedang duduk sendiri, menyepi, menepi. Sudah enam tahun,
sayang. Dan selama enam tahun itu juga aku setiap harinya merasa jatuh cinta
kepadamu. Bahkan, menyebut nama mu saja sudah membuat jantung ku berdegup tak
tentu. Lalu, kau tetap saja jatuh cinta pada gadis lain? Malah melihat
perempuan lain. Keterlaluan, sayang.
Oh, malam. Enam tahun sudah aku sudah berkali-kali
jatuh-cinta dan patah-hati pada orang yang sama. Tapi, malam... sayang ku itu
malah sedang jatuh cinta pada gadis lain sekarang. Aku harus bagaimana, malam? Aku
harus apa lagi, sayang? aku tidak sanggup, bukan, aku sudah tidak sudi menunggu
enam tahun lagi. Aku sudah kecewa, cemburu, dan marah. Aku berada di puncak
merah tertinggi sekarang, sedang membara...
Oh malam.... tapi enam tahun aku juga sudah rela
berletih-lelah menunggu nya. Mesti kah berhenti di titik ini? Bukan kah sudah
banyak kali yang sudah ku korbankan? Aku selalu sendiri selama enam tahun ini,
bertambah tua di tahun-tahun ini karena dia. Tapi, sayang ku itu tetap melihat
perempuan lain... Aku tak dilihatnya sedari enam tahun lalu. Jadi, bagaimana? Aku
harus berbuat apa? Hati ku harus bagaimana?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar