Jumat, 16 Mei 2014

Kecewa, Cemburu, Lalu Marah



Subuh, tanggal enam-belas, bulan lima, tahun dua-ribu-empat-belas ...

Sayang, kudengar dari orang-orang, ketika kita jatuh cinta pada seseorang, kita pasti ingin tahu apapun yang terjadi  pada orang yang telah membuat hati kita berdebar tak menentu. Kita ingin tahu sedang apa dia, bagaimana perasaannya, lalu apa yang sekarang dia makan. Pertanyaan-pertanyaan aneh yang muncul di benak kita tentang orang yang kita sukai itu. Memikirkan dia, merindukan dia, punya banyak rencana dengan dia. Aahhh, itulah cinta...
Sayang, kau tahu ‘kan kalau aku masih menyukai mu? Sangat menyukai-mu, malah. Sudah hampir enam tahun, sayang. Selama enam tahun ini juga aku masih memikirkan-mu, merindukan-mu, lalu punya banyak rencana liar yang ingin kulakukan bersama-mu. Setiap hari, aku selalu jatuh cinta padamu, sayang. Itu setiap hari. Setiap hari pula aku selalu mencari tahu tentang diri-mu, hidup-mu, bahkan hati-mu. Kau tahu, sayang.. selama beberapa tahun belakangan ini pula, aku diam-diam membuka-buka akun Facebook mu. Aku lihat setiap yang tertera, ku-maknai, lalu ku-tarik kesimpulan sendiri. Seperti melakukan eksperimen hati secara sembunyi-sembunyi.
Beberapa jam yang lalu, waktu ku lihat akun mu, aku sedikit kecewa, sayang. Tidak, aku sangat-sangat  kecewa! Aku baca status terakhir yang kau tulis. Kau, sepertinya sedang jatuh cinta. Tapi Sayang, aku sepertinya juga masih merasa cemburu. Pun sudah berkali ku ikrarkan pada hati jika tak akan lagi mengharap mu, nyata nya, aku masih saja meradang hati saat ku lihat status mu yang itu. Aku punya banyak pertanyaan saat melihat itu, “apa status itu untuk-ku? Siapa perempuan itu? Apa spesialnya perempuan itu?” Dan sederet pertanyaan gila lain yang terus bergerilya di otak ku.
Tunggu. Aku bukan hanya kecewa, atau cemburu saja, sayang. Aku juga marah. Aku sangat marah. Aku benar-benar marah sekarang. Aku marah karena seperti sia-sia saja penantian hati ku pada hati mu. Aku sudah menanti hampir enam tahun. Enam tahun, sayang. Enam tahun itu sudah lebih dari lima tahun, bukan? Tapi enam tahun itu ternyata belum sanggup membuat mata mu sedikit menoleh kesamping dan melihat ku yang sedang duduk sendiri, menyepi, menepi. Sudah enam tahun, sayang. Dan selama enam tahun itu juga aku setiap harinya merasa jatuh cinta kepadamu. Bahkan, menyebut nama mu saja sudah membuat jantung ku berdegup tak tentu. Lalu, kau tetap saja jatuh cinta pada gadis lain? Malah melihat perempuan lain. Keterlaluan, sayang.
Oh, malam. Enam tahun sudah aku sudah berkali-kali jatuh-cinta dan patah-hati pada orang yang sama. Tapi, malam... sayang ku itu malah sedang jatuh cinta pada gadis lain sekarang. Aku harus bagaimana, malam? Aku harus apa lagi, sayang? aku tidak sanggup, bukan, aku sudah tidak sudi menunggu enam tahun lagi. Aku sudah kecewa, cemburu, dan marah. Aku berada di puncak merah tertinggi sekarang, sedang membara...
Oh malam.... tapi enam tahun aku juga sudah rela berletih-lelah menunggu nya. Mesti kah berhenti di titik ini? Bukan kah sudah banyak kali yang sudah ku korbankan? Aku selalu sendiri selama enam tahun ini, bertambah tua di tahun-tahun ini karena dia. Tapi, sayang ku itu tetap melihat perempuan lain... Aku tak dilihatnya sedari enam tahun lalu. Jadi, bagaimana? Aku harus berbuat apa? Hati ku harus bagaimana?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar