Senin, 15 Desember 2014

Minggu Sabar



01.3 WIB.
15 Desember 2014.

Selamat subuh, sayang. Juga, selamat hari Senin. Ini sudah di tengah Desember. Setengah bulan lagi kita akan sampai lagi di tahun baru. Tahun baru, harapan baru, doa baru, semua baru. 

Sayang, aku belum bisa tidur. Padahal sudah mau jam dua. Padahal seharian aku sungguh lelah. Hari ini hati juga tak tentu. Kadang nyengir, kadang meradang hati, kadang mau teriak, kadang bicara lembut. Aku seperti ababil hari ini. Oalahh...

            Sayang, aku lelah bukan karena tanpa alasan, loh! Bukan juga karna alasan yang sengaja ku buat-buat biar di kasih tepukan tangan dari orang-orang. Tapi sumpah, hari ini juga salah satu hari yang cukup dongkol buat ku. Hari ini harus lanjutkan lagi persiapan untuk Natal anak-anak. Latihan terakhir, kasih nilai agama anak-anak, bungkus-bungkus (lagi) bingkisan untuk anak-anak. Saking (sok) sibuk (mungkin), jadi lupa makan, kelaparan, di tambah amarah, kesal, jadi kepingin makan orang. Ini lagi, aku harus revisi susunan acara ibadah nya. Aku kewalahan, sayang!!

            Lagi, sambil melakukan semua itu, aku harus tahan (lebih) lagi kaki yang sakit ini. Mondar-mandir kesana kesitu kesini. Jadi contoh buat anak-anak nari, dapat tatapan gak asik dari orang tua si anak-anak. Sayang, kaki ku belum benar-benar pulih. Tidak!! Kaki ku memang belum pulih,kok. Aku hanya tidak mau berlama-lama seperti sakit terus, jadi mencoba untuk tampil sehat. Uh, tapi gara-gara itu semua jadi anggap aku benar sudah sehat, jadi terasa sedikit semena-mena. 

            Gara-gara kesal yang belapis bak roti lapis legit, aku juga jadi selisih paham sama si Mona. Ah, maaf ya dik, terbawa emosi. Untung deh si Mona uda dewasa, ya walau kadang masih sering bikin dongkol sendiri. 

   Tapi, masih saja aku belum paham betul soal suasana hati seharian itu. 

            Sayang, sepertinya aku lagi butuh asupan semangat. I need support!! Aku lagi cari-cari orang yang bisa kasih aku semangat nih, seperti waktu aku kecelakaan lalu. Yap, dapat orangnya. Aku mulai duluan, deh! Aku chat di BBM, punya ekspektasi besar untuk berlanjut. Tapi sayang mau kata apa, ibarat gayung tak bersambut, nih. Dia ada rapat sepertinya. Dan juga meski tidak ada rapat, kentara sekali sedang  (dia) tidak nafsu untuk lanjutkan itu chat. Ah, aku kecewa berat!

            Biar lupa, aku sama Mona (udah baikan, nih) nonton film di rumah abang Pendeta. Kita nonton dua film. Film pertama gak asik, ah. Terus, film kedua sukses buat aku lupa soal gimana aku lagi butuh kata-kata semangat from someone that I really want. Kita ngakak bebas, ketawa lepas. Film nya, briliant!!!

            Sampai rumah, eh kepikiran lagi. Aku benar-benar sedih galau sendiri. Mau nangis, lepasin semua, eh ketahan ditenggorokkan. Ya udah, aku nangis tanpa suara. 

            Ah, sayang! Hari ini cukup berat. Tapi setelah bang Iwan kasih pencerahan maut, aku jadi sedikit bernapas ringan. Ya, semuanya itu (apalagi untuk Tuhan) butuh pengorbanan. Pengorbanannya bisa apapun, bisa tenaga, waktu, uang, pikiran, sampe korban perasaan. Benar saja lah, pengorbanan ini jelas belum ada apa-apanya kalo mau banding-bandingan sama pengorbanannya Yang Besar. Aku masih cetek.

            Sayang, kaki ku masih benar-benar sakit seperti kemarin-kemarin. Tap sayang, hati ku, perlahan sembuh. Itu yang terpenting, sayang.

            Seperti biasa, di akhir tetap ucapan terima kasih buat siapapun yang sudah jadi aktor film hidup ku hari ini. Wah, pelajaran baru lagi deh, hari ini!! Terima kasih banyak, Minggu sabar :* 

Selamat Senin subuh, Sayang. Mari menangkan hari ini :)
           

Jumat, 05 Desember 2014

I Won't Give Up : Ujian PPL



Hey, Sayang !! Wah, benar-benar sudah sangat lama tidak menulis dan menyapa. Ini buka karena aku sengaja, tapi rutinitas nya benar-benar menyita waktu dan perhatian. Sayang, selamat hari Kamis, ya. Sudah di penghujung tahun sekarang. Harus ada resolusi lagi, perubahan lagi, peningkatan lagi.
Sayang, sambil menulis ini aku tahan-tahan sakit loh. Kemarin sore aku sial lagi menabrak mamang tukang galon. Aku mau berangkat ke Gereja bertemu anak-anak Sekolah Minggu, tapi mau bilang apa lagi, sudah jatuh. Jadi sekarang kaki ku sangat bengkak, susah sekali berdiri, apalagi berjalan. Tambah lagi, sore ini meriang kambuh lagi. Sudah pakai baju hangat berlapis-lapis tapi masih merasa menggigil. Untung saja, si Ibu kasih Paracetamol meski sambil ngomel-ngomel mengungkit-ungkit kerja yang ku lalui di waktu-waktu kemarin. Katanya ini salah ku lah, kurang istirahat, banyak ke luar, sering pulang subuh, sekarang sakitnya numpuk. Aduh, semakin sayang sama si Ibu.
            Sayang, hari ini hari yang benar-benar berat buat ku. Aku ujian PPL hari ini. Sebelum ujian sepertinya harus dilalui dulu ujian-ujian lain yang benar-benar bikin kepala makin pening, kaki makin bengkak. Oalah, aku benar-benar harus bertahan dan punya hati yang kuat buat hadapi ini.  Kamu tahu, Sayang, karena kaki bengkak ini aku harus diantar-jemput sama si Bapak. Aku belum kuat untuk berangkat ke sekolah sendiri. Kalo ku paksa, pasti ada lagi bagian tubuh ku yang berbaret ato bengkak. Lagipula pagi tadi hujan nya deras, butirannya besar-besar, dan suara hujannya betulan keras. Daripada basah, ku bujuk lah si Bapak untuk antar-jemput. Aduh, semakin sayang sama si Bapak.
            Ternyata belum selesai sampai disitu, Sayang. RPP ku ketinggalan di rumah. Benar-benar!! Jadi dengan segala keterpaksaan dan kesakitan ku bujuk lagi si jutek, Reinsi untuk boncengkan aku ke warung internet terdekat. Kami ngebut ditengah gerimis yang sama sekali gak romantis. Sambil nge-print RPP sial itu, aku harap-harap cemas bagaimana jika dosen penguji ku bosan menunggu lalu marah, lalu pergi, lalu aku batal ujian. Ya Tuhan, ini benar-benar!!
            Abang penjaga warnet-nya juga lama. Nge-print ­nya benar-benar lama, astaga!! Lalu setelah selesai, aku ingat si Mbak Ana lupa bawa speaker, padahal kan aku ujiannya pakai lagu, bagaimana mau kedengaran lagunya kalo tidak dibantu speaker. Jadi dengan gaya sok PD aku pinjem itu speaker sama si abang warnet. Mungkin karena liat muka maha jelata ku, akhirnya dia pinjam kan barang itu ke aku. Abang warnet, terimakasih.
            Setelah nge-print, masih ada lagi yang benar-benar bikin tenaga ku rasanya habis seketika, Sayang. Sepatu ku rusak parah. Faktor hujan mungkin. Jahitannya lepas, tak berbentuk dan jelas tak bisa dipakai lagi. Sampai di sekolah, si Eda lagi ngomel-ngomel suruh aku lebih cepat. Aduh, Eda cantik, keadaan ku tak mamungkinkan untuk bisa lebih cepat dari apa yang sudah ku lakukan. Oke, lupakan Eda, kembali ke sepatu. Untunglah si cerewet Chintiya rela flat shoes nya aku pinjam dulu. Chintiya, terimakasih.
            Si baik Bian, juga membantu membawa laptop dan speaker. Dia benar-benar teman PPL yang baik. Sampai lah ke kelas 7C. Dosen penguji ku yang super gaul, Mam Esti sudah duduk santai sambil bercerita sama Mbak Ana sama si ngeselin, Dio. Aku minta maaf, lalu Bian bilang kalau Guru Pamong ku pergi tak tau ke mana. Astaga, Mam Pitri, aku ujian dan Mam pergi begitu saja, benar-benar tak abis pikir!! Sambil sakit dan takut aku bilang ke dosen kalo guru pamong ku gak ada. Untunglah, dosen jawab, “Okay, No problem. We can do this without her”. OMG, benar-benar terima kasih ke Dosen satu ini. Then, I did my teaching test without Mam Pitri.
            Kamis ini, setelah aku selesai dengan ujian, aku merenung sambil menunggu jemputan si Bapak. Sebenarnya, Tuhan benar-benar telah melatih ketahanan hati ku hari ini. Aku, tidak pernah boleh utnuk menyerah pada apapun sampai pada titik terakhir. Ini juga ada hubungannya dengan lagu yang ku perdengarkan ke anak-anak saat ujian tadi. I won’t give up on us, even if the skies get rough. Dari lagu itu aku dan anak-anak 7C sama-sama memaknai kata-kata itu. Aku, kami, tidak akan pernah ingin berhenti untuk berusaha meski jika langit mulai menghitam. Jujur, saat di warnet aku sudah bilang ke Reinsi untuk menyerah pada ujian hari ini. Tapi lagi-lagi aku harus berusaha. Lau semua jadi terlaksan. Dan, usaha hari ini setidaknya semakin menguatkan hati. Ujian PPL dengan kaki bengkak dan pincang, tanpa guru pamong, sepatu dan speaker pinjaman. Ah, hari ini benar-benar berbekas, tak terlupakan.
            Dan untuk menutup Kamis malam ini, ku ucapkan ribuan terima kasih untuk semua orang yang jadi ikut-ikutan terlibat karena ujian ku tadi. Terima kasih untuk Ibu, atas omelan, paracetamol¸dan air hangatnya. Terima kasih untuk Bapak, atas antar-jemput dan  kelembutan hati nya mendengar ku mengeluh karena kaki bengkak dan cuaca yang tidak bersahabat. Terima kasih untuk Reinsi atas boncengan dari sekolah-warnet lalu warnet-sekolah. Terima kasih untuk Chintiya yang rela meminjamkan sepatu mengajarnya untuk ku. Terima kasih untuk dosen penguji ku, Mam Esti yang benar-benar mengerti dan peduli. Terima kasih untuk guru pamong, Mam Pitri yang meski tidak mendampingi ujian ku tapi tetapi tetap lembut tersenyum. Terima kasih untuk anak-anak ku siswa-siswi kelas 7C yang hari benar-benar jadi baik dan penurut sehingga ujian ku jadi lancar meski telambat lebih dari setengah jam. Terima kasih untuk Marina, atas pinjaman sendal jepitnya, jadi aku masih bisa pulang dengan beralas kaki. Terima kasih buat Kavka, gadis cantik kelas 4 SD yang Bahasa Inggris nya sudah sangat bagus sehingga jadi pusat perhatian di sekolah. Untuk suaranya yang cantik secantik rupa.
Terakhir, aku mau berterima kasih buat Dia. Satu-satunya orang yang tetap memberi support dan berkata “Semangat!!” ketika yang lain bilang “Makanya hati-hati”. Terima kasih buat 20 menit yang jadi 2 jam saling bincang tentang apapun. Aku jadi merasa punya abang dan sahabat yang baik.
Lalu, terima kasih buat semuanya, Tuhan. Ini benar-benar mendebarkan, luar biasa!!
Selamat Kamis, Sayang !!