Rabu Malam ber-angin, 29 April 2015
Maka aku masuk mengendap-endap di
tiap-tiap hening yang ada. Jalan berjinjit, sepatu ku tenteng di tangan kanan. Berusaha
sebaik mungkin menyembunyikan suara derap kaki dan hembusan nafas yang memburu
dari ketakutan akan malam. Berusaha aman dari apapun yang mungkin mengancam. Hampir
tiap malam begitu. Biasanya ada yang entah sepenuh atau setengah hati mau mengantar.
Tapi jika tidak, mau tidak mau aku pura-pura berani berkendara sendiri. Melewati
jalan sepi, berebut jalan dengan mobil-mobil besar pengangkut batu bara. Dingin.
Sendirian.
Jika tidak begitu, aku akan dengan senang hati menumpang bermalam di rumah teman atau adik. Mereka pun entah
sepenuh atau setengah hati mau menerima adanya orang lain di kamar rumah mereka
untuk satu malam. Tidak. Tidak hanya satu malam. Terkadang dua, tiga, atau
empat malam, dan pada kondisi tertentu bisa lebih dari itu. Pada masa lain,
ketika aku merasa tidak enak hati pada si empunya rumah, aku akan berpindah
tidur dari rumah ke rumah, di malam ini lalu di malam berikutnya. Begitulah.
Lalu ada pula ketika niat baik ternyata
tak berbalas. Oh, ternyata bukan saja cinta yang tak berbalas, niat baik pun sering
dianggap sebagai hal klasik yang secepat itu dilupakan, diabaikan. Padahal, jika
mau membesarkan ego, buat apa aku susah-susah berpikir dan berbuat baik, yang
nyatanya mendapat respon yang acuh tak acuh. Aku bisa saja (berpura-pura) tidak
peduli pada banyak orang dan memilih untuk bersikap otoriter asal semua jalan,
semua aman. Tapi kehidupan menurut ku tidak seperti itu. Ada pergantian, ada
masa, ada penerus, ada hal-hal selanjutnya. Dengan segala keinginan hati, aku
mau segalanya jadi lebih baik. Aku ingin ada peningkatan dari waktu kini dan
nanti. Namun malang, niat ini rupanya malah dianggap sesuatu yang malah ‘pura-pura
baik’ mungkin. Dianggap angin lalu, disamakan seperti udara, tak terlihat,
hilang.
Namun dibalik semua peristiwa yang
terjadi, aku masih dan tetap belajar untuk mengimani kasih Agape. Kasih yang tak pernah menuntut balas,
tak bersyarat, unconditional love. Meski ada waktu ingin sekali bilang “Do you even know how you make me weak?” ke
orang-orang itu, tapi ya sudah lah, ‘toh Sang Guru pernah mengalami banyak hal
yang lebih dari ini, jadi nikmati saja.
Aku masih sangat ingat kata Ki
Hajar Dewantoro, bahwa setiap tempat adalah sekolah, setiap orang adalah guru. Dengan
ini, akan kujadikan orang-orang itu menjadi guru terbaik yang mengajarkan sekaligus
memberi kesempatan buat ku untuk belajar mengimplementasikan sebuah nilai
kesabaran yang mengasihi. Dan lagi, juga
masih ku ingat kata adik ku, Willem, bahwa jangan pernah melihat orang dari hal
buruknya, tapi dengar dan pelajari hal baik darinya, meski perkataan terkadang
tak sejalan dengan tindakannya. Nah, bahkan dari si adik, aku tetap bisa
belajar tentang sebuah kebijaksanaan.
Malam ini, niat awal ku untuk
bercerita kepada seseorang, ku urungkan dulu saja. Lagipula, jaringan sedang
tidak mendukung juga. Jadi daripada setengah-setengah lebih baik tidak sama
sekali. Untuk malam ini, rangkaian kata-kata yang kutulis melalui ini terasa lebih memberikan peneguhan hati,
karena hakikatnya sembari kita menulis, kita menasihati diri sendiri.
Jadi,
daripada aku bertindak seperti orang yang (pura-pura) tidak peduli, lebih baik
aku melanjutkan semua hal ini dan selanjutnya dianggap sebagai orang yang (pura-pura) baik. Suatu saat, semoga mereka
mengerti, lalu peduli. Mengerti dan peduli dengan hati, dengan kasih.
Mereka,
semoga pada masa selanjutnya, berkarya dengan lebih baik daripada karya ku, berlaku
lebih baik dari pada laku ku, berucap lebih baik dari pada ucap ku. Jika mereka
berhasil, maka aku akan menjadi orang yang jauh lebih berhasil. Aku akan bangga, bukan pada ku, tapi pada mereka.
Selamat malam, Rabu. Semoga segera
tercerahkan hati dan pikiran. Semoga tetap selalu memiliki kasih, kasih tanpa
syarat, kasih Agape =)
Buatlah hal-hal baik, demi gereja
dan tanah air!!!