Singapura, 13 Januari 2021
Dear,
LIBRA...
Li,
apa kabar mu? Masih ingat aku tidak? Aku teman mu di Perguruan Tinggi dulu.
Kita beda jurusan dan angkatan, memang! Tapi kita sama-sama belajar di wadah
mahasiswa yang sama. Kita sama-sama pengurus BEM di Kampus Sriwijaya delapan
tahun silam. Kita sama-sama dalam satu divisi yang sama. Kau, kepala bidang
waktu itu. Aku, sekretaris divisi mu
yang kau bilang sekretaris paling cerewet sepanjang masa.
Li,
mungkin kau terkejut menerima surat ini. Begitupun aku. Aku benar-benar tak
tahu kenapa harus menulis surat ini dan mengirimkannya kepada mu. Aku benar
bingung kenapa setelah sekian tahun tanpa komunikasi melalui media apapun, aku
mencari-cari lagi alamat e-mail mu agar dapat kukirimkan ini. Yang
kutahu, aku tersentak akan suatu peristiwa yang akan datang, serta diingatkan
lagi dengan perasaan dulu-dulu, kepadamu. Aku merasa, sebelum aku akan segera
dihadapkan pada suatu peristiwa, harus terlebih dahulu kutuntaskan perasaan
dulu agar kita (atau lebih tepatnya aku), bisa lebih ringan menjalani hari-hari
depan.
Li,
jika kau masih ingat, pernah juga kutuliskan surat cinta monyet pada mu dulu.
Surat cinta monyet itu, ya tentang perasaan suka-sukaan adik kelas ke kakak
tingkatnya. Dan kau anggap itu hanya candaan, lalu kau juga yakinkan aku bahwa
itu hanya rasa suka dan sesaat, jangan terlalu di dalami, nanti sesat. Akupun mengangguk
menurut. Ya, itu hanya perasaan sesaat yang sesat. Itu sesaat. Itu sesat.
Dengan
keyakinan itu, aku coba berhenti. Meski tak sepenuhnya berhenti, karena aku
masih belum yakin bahwa itu hanya perasaan sesaat yang sesat. Aku justru
semakin membuat rasa suka mengendap, sampai perasaan ‘suka’ ini naik ke level ‘cinta’.
Dan setelahnya, aku makin dan semakin dilema. Kau taulah, anak perempuan
semester lima yang belum pernah tau ada apa dibalik kata ‘pacaran’ yang juga cintanya
masih membara. Waktu itu aku masih galau-galaunya dan yakin-yakinnya bahwa
kaulah yang akan menjadi pendamping hidup. Duh, berlebihan ya? Ya, sekali lagi maklumi
saja, namanya juga anak semester lima.
Li,
setelah kau lulus, dari sanalah awalnya kita semakin sibuk dan tiada kata sapa
pada akhirnya. Kita semakin sibuk pada dunia masing-masing. Selepas kau lulus
dan kembali ke kampung mu di Jambi, aku hanya bisa ‘menguntit’ dari
status-status mu di Facebook dan BBM. Terus-terusan ku cek apa saja yang kau update di dunia maya, lalu kuterjemahkan
sendiri. Lalu beberapa bulan kemudian, BBM mu off, jadi aku hanya mengandalkan Facebook saja untuk mengetahui
apapun tentang mu. Itu kulakukan dari semester enam sampai aku lulus kuliah,
menguntit mu melalui media. Aku penguntit yang setia, bukan?
Li,
sebulan setelah aku lulus kuliah, entah dengan alasan apa, tiba-tiba saja aku
tidak bisa lagi menemukan akun Facebook mu. Kata teman-temanku, mungkin kau
sendiri yang dengan sengaja menutup akun mu. Jujur saja, agak sedih dan kecewa
kurasa. Mengetahui semua kegiatan mu dari Facebook sudah menjadi kebiasaan
hampir setahun lebih kulakukan. Itu hal yang sangat menyenangkan buat ku. Namun
ya, kau sudah tutup akun, aku bisa apa? Setelahnya, aku benar-benar tak tahu
apapun lagi tentang mu. Tapi yang makin jelas adalah, aku semakin dan semakin
menyukai mu, entah karena apa.
Li,
bulan depan aku akan menikah. Tepat di tanggal 27 di bulan lahir mu, Februari. (Dulu aku pikir, karena namamu Libra maka
kau lahir di sekitaran zodiak yang sama. Ternyata kau malah lahir di bulan
Februari dua hari sebelum hari kasih sayang.) Jadi, pada akhirnya inilah
tujuan ku mengirim surat ini padamu. Tujuan lainnya, karena aku merindukan mu. Aku
rindu bebagi cerita dengan mu. Tapi jangan kau pikir aku tidak mencintai calon
suami ku, kami sama-sama orang Indonesia yang merantau ke Singapura. Dia sangat
menjaga ku, juga mencintai aku. Sebaliknya aku. Kami saling mencintai. Dan kami
akan segera menikah.
Li,
tahun ini usiamu 28 tahun kan? Bagaimana cerita cinta mu? Aku harap kau pun
beruntung dengan kisah kasih mu dan bertemu dengan perempuan yang tepat. Kau orang
yang penuh pertimbangan memang, namun jika sudah bertemu perempuan yang sesuai,
jangan terlalu lama mempertimbangkannya, nanti malah kau tak dapat.
Lalu,
melalui surat ini juga aku mengundang mu, Li. Aku akan menikah di Palembang,
datanglah jika sempat. Jarak Palembang-Jambi tidak begitu jauh, kan. Nanti jika
jumpa, aku ingin mengenalkanmu pada dia. Entah kenapa, ingin saja.
Dan
Li, akhirnya beginilah kita. Kita tetap tidak disatukan oleh Tuhan meski banyak
malam telah kumintakan padaNya. Tapi rancangan Tuhan lebih indah. Tuhan tidak
mengabulkan ingin ku untuk punya takdir padamu, tapi dia mempertemukan aku
dengan lelaki yang benar-benar baik. Kau pun begitu pastinya. Aku tidak cukup
baik untuk mu, kita tidak cukup baik bagi satu sama lain. Jadi kita tak baik
jika bersatu.
Li,
di akhir surat ini, aku ingin kita bisa saling bertemu dan menyapa lagi. Sebenarnya
dari awal kita tidak punya masalah apapun untuk diribetkan. Kita partner saat
kuliah dulu, kita berteman dan bersahabat baik. Hanya saja ruang dan waktu yang
membedakan kita, lalu kesibukan pun menyita kesempatan untuk saling menyapa. Semoga
saja, Tuhan segera mempertemukan kita dalam versi dewasa dan bijak di tengah
kematangan umur kita, untuk tetap saling bercengkerama.
Ah,
iya... Li, calon suami ku bernama Harry. Dia titip salam pada mu.
Semoga
e-mail mu masih tetap aktif ya...
Tuhan
memberkati mu, Li!
Salam
Kasih
-
Raniva
