Tanggal
empat bulan lima tahun dua ribu empat belas..
Ini tentang pelabuhan hati. Pelabuhan yang
disinggahi, lama juga sebentar, dari armada lelaki yang menjadi cerita di
malam, ada yang berbintang ada pula gelap berkabut.
Armada pertama kusebut, PERSAHABATAN. Ini
armada terbaik (ku pikir) yang pernah hinggap di relung jiwa. Ia singgah di
awal masa putih abu-abu ku, ketika masa orientasi dulu. Aku kagum, awalnya.
Sangat kagum. Dia tertawa renyah padaku, waktu dulu saat aku ditugasi meminta
tanda tangan setiap orang. Dia hangat, tapi juga menyejukkan. Ia mendamaikan,
tapi penuh gairah. Tapi, yaa... Cuma sebentar. Kagum ku, memang tetap seperti
itu adanya. Hingga kini, ia tetap menjadi teman lelaki terbaik, abang
tercerewet, juga pendengar yang teramat manis. Itulah yang pertama...
Lalu, armada kedua kunamai, KECANDUAN.
Candu yang teramat lama yang tetap menjadi candu meski armada lain juga sudah
pernah datang dan pergi lagi. Tetap saja, armada ini sangat mencandui hati dan
jiwa ku. Diawali dengan kebencian yang teramat dalam, mentidak-sukakan setiap
tingkah arogan nya, jiwa ‘sok tahu’ nya. Dari situ, dari benci itu, benar gila
sudah aku dibuatnya. Lalu berlanjut pada
kesamaan wadah siswa yang kami ikuti, pasukan baris-berbaris. Di sana cinta ku
mulai memerah, makin tak dapat disembunyikan. Hingga kutulis surat cinta ku di
ulang tahunnya pada usia 16-nya. Ucapan selamat, sekaligus (mungkin) saja
pernyataan hati. Namun tak bersambut, ya sayang. Dia menolaknya, meski tak
dengan kata, tapi tingkah. Aku gamang pada waktu ku belia itu. Terus-terusan ku
tunggu sampai hatinya mungkin saja bisa terenyuh. Tapi tidak, sayang. Dia
terenyuh tidak pada ku, tapi pada gadis lain. Bergandeng mereka tepat di depan
kedua mata bulat ku. Yaaaa...... aku menangis malamnya dan meminta nasihat
teman ku layaknya perempuan dewasa. Tak ku ganggu mereka dua, tak ku harap.
Tapi hingga kini, masih saja, pun ku buka lebar pelabuhan ini, Ia tak mau
singgah barang sebentar. Sedih..
Sambil ku tunggu armada kedua itu,
datanglah aramada berikutnya. Ini kuberi nama KEBODOHAN. Cinta ini benar buat
ku tak cerdas, meski jadinya tak malas. Rasa suka ku pada lelaki dua tahun
lebih dewasa dari ku di sebuah wadah mahasiswa. Aku bodoh, melakukan hal-hal
yang di luar pikir ku. Aku bertingkah seolah jadi gadis paling manis, paling
pintar, paling bersemangat dan penuh cita. Aku ingin dia juga meihat ku, meski
sebentar. Tapi ya, ini cinta yang bodoh. Telah tahu bahwa dia sudah punya
pendamping hati, masih kutunggu. Rajin aku datang ke tempat pertemuan, bukan
untuk belajar sebenarnya, tapi untuk mengejar, mengejar hatinya yang sudah
berlari entah kemana. Lagi, ketika usianya jadi 21, kuberi dia mobil, kuncinya
juga. Meski hanya miniatur. Kuberi ucapan tepat tengah malam waktu itu. Pikir
ku, aku ingin jadi yang pertama buat nya. Tidak hanya pada pesan singkat, tapi
juga pada media sosial yang kami punya. Padahal, waktu usia ku 19, semua
memberi doa selamat buat ku, tapi dia tidak. Aku bodoh, bukan? Ya, masih tetap
bodoh kurasa. Tetap saja dia kusuka. Dimintanya aku mencari lagu, judulnya
‘Butiran Debu’. Dimintanya siang, sore telah ku dapat. Aku berusaha mendapatkan
itu. Saat Yudisium nya, kami foto Cuma berdua. Itu jadi foto pertama dan
terkahir kami berdua. Aku sangat terkesan waktu itu, entah dia bagaimana. Saat
wisudanya pun, dia duduk di bawah. Aku dan tim paduan suara kampus kami
mengambil barisan di lantai atas. Aku bernyanyi sambil curi-curi pandang. Aku
lihat dia sedang apa, sedang bicara dengan siapa.. Ya, malam... bodohnya...
Sekarang armada yang sedang bersiap
berlayar berlalu dari pelabuhan hati ku. Dialah KEGILAAN. Ku sebut begitu
karena Ia telah melarikan ku jauh dari prinsip hati ku. Jangan sampai jatuh
cinta pada pria yang belum dewasa secara usia. Tapi benar orang kata, dewasa
itu bukan karena banyaknya usia yang ia punya, tapi tentang bagaimana Ia
memaknai hidup. Pada pria ini, aku benar-benar menjadi seperti istimewa.
Digenggam nya tangan ku saat ku butuh, dengan beribu senyum manis nya, dan
segala bentuk pengalaman dan rahasia hidup nya. Aku merasa seperti berarti. Di
hitung nya keberadaan ku. Namun tak lama, Ia tunjukkan sisi lain dari
pribadinya. Ia rupanya tak sejujur seperti apa yang diceritakannya. Ia ternyata
tak semanis senyum nya, dan tak setegar cerita-cerita ‘super hero’ nya, juga tak
se-dewasa seperti di awal yang ditunjukkannya. Padahal, aku sudah suka dia.
Lagi-lagi armada ini harus pergi, dan pelabuhan ku masih saja tetap begini,
kosong, tak berpenghuni...
Lalu, setelah semua armada itu, aku masih
tetap di tempat ku menanti armada mana yang akan datang nanti. Mungkin saja itu
armada baru yang meninggalkan jejak cerita hati, atau bahkan mungkin armada
yang sudah lalu itu memutar kembali, menuju kembali ke pelabuhan hati, milik
ku.. aku benar-benar menanti akan itu.....
yaakk je, dengan tema yang sama dengan "Selamat Ulang Tahun, Kamu..."
BalasHapusweh... tema nya sama ya... padahal uda ku buat biar agak beda gitu... kalo ini kan ada 4 org cha, kalo yg itu fokus sama 1 org aja cha...
BalasHapus