Selasa, 13 Mei 2014

Selamat ulang tahun, Kamu...



Selamat ulang tahun, Kamu...

Tanggal dua bulan dua tahun dua ribu empat belas. Kamu akhirnya menjadi pria yang semakin dewasa. Dua puluh satu tahun, sayang. Selamat, ya.. Meskipun tak kuat rasanya hati dan niat ku untuk mengucapkan rasa syukur ku atas kebahagiaan usiamu yang kian hari kian bertambah, tapi percaya atau tidak, aku telah benar-benar menguntai kata-kata yang dengan teratur ku pilih untuk ku persembahkan kepadamu. Aku telah sangat berani (menurutku) untuk kembali lagi mengucapkan itu sembunyi-sembunyi di kotak pesan pribadi pada akun Facebook mu.
Percayalah, sayang. Aku tidak melebih-lebihkan agar kisah ini terlihat sangat dramatis. Tapi ini sebuah kebenaran, jika aku benar-benar telah memilih diksi yang terbaik untuk mu. Ku tulis, lalu kuhapus jika tak sesuai. Ku tambahkan pada bagian-bagian yang kurang. Tanpa ada satupun dari tiap kata yang ku singkat. Aku jabarkan semua dengan pas, sesuai porsi. Aku tak ingin membuat singkatan pada tiap kata yang telah kutorehkan. Sungguh, aku benar-benar telah mencoba memberi yang paling ku bisa.
Sayangnya, sayang... tak semua persembahan manis kita akan berbalas indah. Ada masa dimana hadiah kecil kita dianggap benar-benar kecil, tak berbekas. Hadiah kecil, sederhana, yang kita kira mungkin akan menyentuh hati ternyata tak pernah bisa merubah apapun. Seperti hadiah mungil ku untuk mu. Hanya beberapa baris kalimat, beberapa belas kata, beberapa puluh huruf. Tak jua itu membuat mu tersenyum mungkin, meskipun aku berharap kau tersentuh saat membacanya, lalu membalasnya dengan kalimat yang sama panjangnya, debaran jantung yang sama kencangnya, perasaan yang sama tak menentunya. Oh, tidak! Aku terlalu berlebihan.
Pada akhirnya, disetiap sajak yang kubuat, disetiap laku yang ku perankan, disetiap kata yang terucap, disetiap senyum yang tersirat, tak pernah cukup kuat untuk sampai pada permukaan hati mu yang kokoh, kaku, kikuk. Pada akhirnya pula, aku menyerah pada titik ini, tepat di hari mu yang sudah dua puluh satu tahun ini. Singkat nya balasan mu pada panjangnya sajak ku, mencerminkan kenangan singkat yang kau rasa saat mengenalku, meski aku merasa sudah sangat panjang benar kisah ku pada mu, sedari dulu. Sudah waktunya aku harus berhenti disini, walau pada masa lalu pun aku sudah selayaknya untuk berhenti, tapi memaksa untuk menunda berhenti. Aku berhenti sekarang, pada titik ini.
Terima kasih ya, sayang. Terima kasih atas balasan mu pada pesan ku, dalam dua tahun panjangnya usia mu. Meski dua tahun sebelumnya kau belum siap membalas pesan ku. Dan sampai disini, balasan mu tetap hanya tertuju pada sajak ku, bukan pada hati ku.
Selamat ulang tahun ke dua-satu. Hidup mu akan jauh lebih baik di hari depan nanti.

4 komentar:

  1. eyaakk eyaaaaakkk..
    tanggal dua bulan dua tahun seribu sembilan ratus sembilan puluh dua :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahah.... seribu sembilan ratus sembilan puluh tiga cha... bukan 92... wkwkwkwkwk :D

      Hapus
  2. rasanya tanggal ini familiar...siapakah gerangan?

    BalasHapus
  3. nah kalo ini baru soal sam.. hahaha.. seminggu lg dia ulang tahun lagi, broh...

    BalasHapus