Selamat ulang tahun, Kamu...
Tanggal
dua bulan dua tahun dua ribu empat belas. Kamu akhirnya menjadi pria yang
semakin dewasa. Dua puluh satu tahun, sayang. Selamat, ya.. Meskipun tak kuat
rasanya hati dan niat ku untuk mengucapkan rasa syukur ku atas kebahagiaan
usiamu yang kian hari kian bertambah, tapi percaya atau tidak, aku telah
benar-benar menguntai kata-kata yang dengan teratur ku pilih untuk ku
persembahkan kepadamu. Aku telah sangat berani (menurutku) untuk kembali lagi
mengucapkan itu sembunyi-sembunyi di kotak pesan pribadi pada akun Facebook mu.
Percayalah,
sayang. Aku tidak melebih-lebihkan agar kisah ini terlihat sangat dramatis.
Tapi ini sebuah kebenaran, jika aku benar-benar telah memilih diksi yang
terbaik untuk mu. Ku tulis, lalu kuhapus jika tak sesuai. Ku tambahkan pada
bagian-bagian yang kurang. Tanpa ada satupun dari tiap kata yang ku singkat.
Aku jabarkan semua dengan pas, sesuai porsi. Aku tak ingin membuat singkatan
pada tiap kata yang telah kutorehkan. Sungguh, aku benar-benar telah mencoba
memberi yang paling ku bisa.
Sayangnya,
sayang... tak semua persembahan manis kita akan berbalas indah. Ada masa dimana
hadiah kecil kita dianggap benar-benar kecil, tak berbekas. Hadiah kecil,
sederhana, yang kita kira mungkin akan menyentuh hati ternyata tak pernah bisa
merubah apapun. Seperti hadiah mungil ku untuk mu. Hanya beberapa baris
kalimat, beberapa belas kata, beberapa puluh huruf. Tak jua itu membuat mu
tersenyum mungkin, meskipun aku berharap kau tersentuh saat membacanya, lalu membalasnya
dengan kalimat yang sama panjangnya, debaran jantung yang sama kencangnya,
perasaan yang sama tak menentunya. Oh, tidak! Aku terlalu berlebihan.
Pada
akhirnya, disetiap sajak yang kubuat, disetiap laku yang ku perankan, disetiap
kata yang terucap, disetiap senyum yang tersirat, tak pernah cukup kuat untuk
sampai pada permukaan hati mu yang kokoh, kaku, kikuk. Pada akhirnya pula, aku
menyerah pada titik ini, tepat di hari mu yang sudah dua puluh satu tahun ini.
Singkat nya balasan mu pada panjangnya sajak ku, mencerminkan kenangan singkat
yang kau rasa saat mengenalku, meski aku merasa sudah sangat panjang benar
kisah ku pada mu, sedari dulu. Sudah waktunya aku harus berhenti disini, walau
pada masa lalu pun aku sudah selayaknya untuk berhenti, tapi memaksa untuk
menunda berhenti. Aku berhenti sekarang, pada titik ini.
Terima
kasih ya, sayang. Terima kasih atas balasan mu pada pesan ku, dalam dua tahun
panjangnya usia mu. Meski dua tahun sebelumnya kau belum siap membalas pesan
ku. Dan sampai disini, balasan mu tetap hanya tertuju pada sajak ku, bukan pada
hati ku.
Selamat
ulang tahun ke dua-satu. Hidup mu akan jauh lebih baik di hari depan nanti.
eyaakk eyaaaaakkk..
BalasHapustanggal dua bulan dua tahun seribu sembilan ratus sembilan puluh dua :p
hahahah.... seribu sembilan ratus sembilan puluh tiga cha... bukan 92... wkwkwkwkwk :D
Hapusrasanya tanggal ini familiar...siapakah gerangan?
BalasHapusnah kalo ini baru soal sam.. hahaha.. seminggu lg dia ulang tahun lagi, broh...
BalasHapus