Kakek dan Lagu Indonesia Raya
Kring... kring... kring...!!!
Bunyi
alarm dari telepon genggam mengingatkanku akan waktu. Sudah jam setengah lima
sore sekarang. Aku harus bergegas menjemput gadis kecilku di tempat les bahasa
Inggris. Segera ku bersiap diri, ku ambil kunci mobil dan langsung saja ku
lajukan kendaraan beroda empat berwarna silver itu. Lima belas menit perjalanan
aku sudah tiba ke tempat tujuan. Raniva belum keluar dari kelas bahasa Inggris
nya. Sembari menunggu, aku keluar menuju deratan kursi tempat para orang tua
duduk sambil menanti buah hati pulang. Aku duduk.
“Mama....”
Raniva
seketika berlari begitu melihat wajahku. Ia memelukku manja.
“Wah,
anak Mama sudah selesai les, ya? Ayo, kita pulang!”
Ku
gandeng tangan mungil Raniva dan ku tuntun ia masuk ke dalam mobil. Kami
bergegas menuju rumah. Pulang.
“Raniva,
tadi les bahasa Inggris nya belajar tentang apa?” tanyaku memulai percakapan.
“Tadi
Raniva belajar tempat-tempat liburan yang ada di Bengkulu, Ma. Kata Miss Tari di Bengkulu banyak tempat yang
bisa kita kunjungi kalo lagi libur
sekolah,” Raniva menjelaskan dengan antusias.
“Oh,
ya? Seru donk, ya!” Aku pun membalas
cerita Raniva dengan seksama.
“Iya,
Ma! Tapi tempat yang dikasih tau Miss
Tari ada yang udah pernah kita kunjungi waktu libur sekolah, Ma.”
“Oh,
ya?” tanyaku penasaran. “Emang apa aja yang udah kita kunjungi, Nak?”
“Pantai
Panjang, Ma. Kita kan sering banget
jalan-jalan ke situ. Terus rumahnya Bapak Soekarno, sama satu lagi Fort Marlborough.”
“Nah,
berarti Raniva harus seneng, soalnya
Mama sama Papa sering ajakin Raniva jalan-jalan ke tempat liburan yang ada di
kota kita. Iya kan?”
“Hehehehhe...
iya yah, Ma! Liburan nanti ajakin
Raniva pergi ke tempat yang belum pernah Raniva datengin ya, Ma!”
Aku
membalas ajakan manja Raniva dengan senyuman lembut. Dalam hati aku berucap
syukur atas kebahagiaan ini. Baru kusadari sudah besar ternyata gadis
perempuanku ini. Sudah mampu merayu dengan wajah imut dan polosnya itu.
Tak
lama kemudian, kami berdua tiba di rumah. Raniva lalu kuminta segera mandi dan
membersihkan diri. Aku lalu menyiapkan pakaian dan perlengkapan Raniva. Kami
tinggal bertiga, Raniva, aku, dan suamiku. Hanya saja, suamiku sedang bertugas
di luar kota selama beberapa hari. Jadilah tinggal aku dan Raniva yang saat ini
tinggal berdua.
“Mama,
Raniva sudah selesai mandi.” Raniva mengejutkanku.
“Sini,
keringkan dulu badannya, Nak!”
Raniva
lalu menghampiriku untuk mengeringkan rambut dan badannya.
“Raniva,
besok ada PR apa?” tanyaku sembari membalut rambutnya dengan handuk.
“Besok
ada PR Bahasa Indonesia, Ma. Ibu guru suruh kami buat karangan.”
“Karangan
apa?”
“Karangannya
bebas, Ma. Tapi temanya harus tentang Pahlawan. Kata ibu guru sebentar lagi
hari Pahlawan, Ma.”
“Oh,
begitu. Nanati Mama bantu kerjakan PR. Sekarang, Raniva boleh nonton dulu, ya!
Kalo Raniva sudah makan malam baru nanti kita kerjakan, ya!”
Raniva
mengangguk. Aku melanjutkan mengeringkan rambutnya.
***
Seperti
kebiasaan kami setiap malam, setelah makan malam adalah waktu bagi Raniva untuk
belajar, juga waktu bagiku untuk mendampinginya membuat pekerjaan rumah.
“Raniva
sudah tau mau membuat karangan tentang pahlawan yang mana?” tanyaku.
“Mama,
pahlawan itu apa sih?”
Rupanya
anak gadisku ini belum sepenuhnya paham tentang apa itu pahlawan.
“Pahlawan
itu adalah orang yang sudah melakukan pekerjaan yang baik, dan pekerjaan yang
dilakukannya berguna bagi banyak orang.” Jelasku pelan-pelan.
“Berguna
bagi banyak orang?” tanya Raniva lagi. Ia bingung.
“Iya,
sayang. Apa yang dilakukan pahlawan itu ada manfaatnya bagi banyak orang. Dia
rela mengorbankan jiwa dan raganya untuk melakukan kebaikan. Pahlawan itu orang
yang sangat berjasa. Contohnya Soekarno dan Hatta. Mereka dulu rela
meninggalkan keluarga dan berjuang supaya negara kita bisa merdeka seperti
sekarang.”
“Berarti
ibu guru juga orang yang berjasa dong,
Ma?”
“Ibu
guru?” tanyaku pelan.
“Iya,
Ma. Ibu guru rela mengajari muridnya meskipun muridnya malas dan gak mau belajar di kelas.”
“Iya,
Nak. Ibu guru juga bisa disebut sebagai pahlawan.”
“Berarti,
Raniva buat karangan tentang Ibu Wulan aja, Ma. Ibu Wulan ‘kan baik banget udah ngajarin
Raniva dan teman-teman. Padahal banyak temen
Raniva yang suka berantem dan nakal
di kelas.”
“Hahahahahha...”
Aku tertawa kecil. “Iya. Sayang. Ibu Wulan itu salah satu pahlawan.”
“Kalo Mama, menurut Mama pahlawan itu
siapa?” tiba-tiba Raniva bertanya.
“Pahlawan
menurut Mama?” aku mengulang pertanyaan Raniva.
Raniva
mengangguk. Penasaran.
Aku
diam sejenak. Teringat kembali memori-memori indah bersama orang yang saat ini
sedang aku rindukan. Orang yang bisa dibilang menjadi sosok pahlawan dalam
hidup, Bapak.
“Bagi
Mama, pahlawan itu adalah Bapak nya Mama, kakek kamu, nak.”
“Kakek?”
“Iya,
Kakek”
“Kenapa
kakek, Ma?”
Aku
lalu dihampiri rasa semangat ingin menceritakan kisah-kisah indah ku dulu
kepada anak perempuanku.
“Dulu
waktu Mama masih kecil, Mama itu dekat sekali dengan kakekmu.” Aku memulai
cerita.
“Mama
anak pertama. Waktu Mama sudah masuk TK, Mama belum punya adik, jadi Mama
seperti anak tunggal. Disayang sekali.”
Raniva
mendengar dengan serius.
“Kakek
dan nenek mu punya usaha toko yang cukup besar. Jadi, ketika Mama masuk
sekolah, Kakek dan Nenek bersepakat membagi tugas. Nenek bertugas mengurus
toko, kakek mu yang bertugas mengantar jemput Mama sekolah.”
“Terus,
Ma?”
“Nah,
waktu di TK, Mama ingat sekali Mama pulang agak lama dari biasanya karena harus
latihan untuk upacara Bendera. Ibu guru Mama bertanya siapa yang mau jadi
petugas upacara. Waktu itu Mama sangat takut tampil di depan banyak orang. Jadi
Mama diam saja.”
Ada
seperti ledakan semangat masuk ke rongga jantungku.
“Tanpa
Mama duga, kakek mu yang menyaksikan dari belakang barisan langsung angkat
tangan dan berteriak”
“Kakek
bilang apa, Ma?”
“Kakek
mu bilang, ‘Bu Guru, itu anak saya saja yang jadi pemimpin lagu Indonesia
Raya’. Kakek bilang begitu sambil menunjuk ke arah Mama. Akhirnya, Mama disuruh
maju dan ditunjuk untuk jadi dirigen
lagu.”
“Hahahahahaha....
Berarti Kakek Raniva itu orang yang pemberani banget ya, Ma”
“Hahahahahaha....
bukan Cuma pemberani, tapi juga nekat.”
Kami
berdua tertawa bersama-sama. Kami menikmati cerita.
“Terus
apa lagi, Ma? Lanjutin ceritanya, Ma!”
“Jadinya
Mama bingung. Mama ‘kan belum pernah belajar mimpin lagu. Akhirnya, Kakek kamu
di rumah ajarin Mama.”
“Emangnya kakek bisa mimpin lagu, Ma?”
“Wah,
jangan salah, Kakek kamu itu apa aja
bisa. Jadi dirigen bukan masalah buat
Kakek. Waktu di rumah, Kakek nyuruh
Mama ambil dua batang lidi sebelum belajar mimpin lagu.”
“Lidi?
Untuk apa, Ma?”
“Awalnya
Mama bingung. Ternyata, lidi itu diibaratkan jadi tongkat pemimpin lagu dalam
kelompok musik atau paduan suara. Mama juga tahu itu waktu udah SMP.”
“Hahahahhahaha.....
Kakek lucu ya, Ma. Lucu tapi juga hebat.” Raniva tertawa lepas.
“Jadi,
gara-gara Kakek ajarin Mama mimpin lagu Indonesia Raya, makanya Mama anggap
Kakek sebagai pahlawan ya, Ma?” tanya Raniva polos.
“Raniva,
Kakek bagi Mama bukan cuma sebagai orang tua, tapi juga guru sekaligus
pahlawan.” Aku menjelaskan pelan-pelan.
“Mungkin
bagi orang lain, Kakek mu mengajari Mama memimpin lagu Indonesia Raya itu
adalah hal kecil, namun bagi Mama itu adalah kenangan luar biasa yang
menghantarkan Mama menjadi pribadi yang berguna. Setelah Mama bisa memimpin
lagu Indonesia Raya, Mama jadi sering sekali ditunjuk untuk jadi dirigen baik
di SD, SMP, juga sampai Mama kuliah dulu. Bahkan Mama pernah jadi dirigen di
berbagai acara. ”
“Wah,
Mama serius?”
“Iya,
Nak! Dan, yang paling penting adalah, Kakek mengajari Mama untuk meresapi
setiap kata yang ada di lagu Indonesia Raya. Mengingatkan Mama tentang
perjuangan para pahlawan kita yang rela berkorban demi bangsa dan negara. Dan
itu membuat Mama semakin mencintai Indonesia.”
Raniva
mendengarkan dengan seksama. Ia sangat bersemangat mendengar cerita ku. Lalu
aku berhenti. Raniva diam. Kami saling menatap.
“Kakek
betul-betul seperti pahlawan ya, Ma!” tiba-tiba Raniva berucap.
Aku
tersenyum. Hatiku menghangat. Betapa aku bahagia mendengar ucapan Raniva
tentang Kakeknya. Biarpun Raniva belum sempat berjumpa dengan kakeknya, namun pengalaman
yang kuceritakan pada Raniva bisa menjadi penghubung antara keduanya.
“Nah,
Mama sudah cerita. Sekarang waktunya Raniva mengerjakan PR nya, ya!” aku
mengingatkan Raniva.
“Ma,
aku mau buat karangan tentang Kakek aja, deh!”
“Loh,
gak jadi tentang Ibu Wulan?” tanyaku.
“Gak
jadi ah, Ma! Soalnya pasti banyak yang buat karangan tentang Ibu Wulan.”
“Memangnya
menurut Raniva, Kakek juga pahlawan, ya?”
“Iya,
Ma. Kakek itu pahlawan karena sudah jadi orang tua yang baik untuk Mama, dan
jadi Kakek yang hebat untuk Raniva.”
Aku
semakin bahagia. Air mata haru hampir saja jatuh. Tapi kutahan.
“Nah,
Ma. Raniva punya ide untuk judul karangan Raniva.”
“Apa
judulnya, sayang?”
“Raniva
kasih judul, ‘Kakek dan Lagu Indonesia Raya’. Bagus gak, Ma?”
Senyum
lebar-lebar keberikan. Anak gadisku sungguh pandai.
“Wah,
judulnya bagus sekali. Pasti isi karangannya juga akan jadi karangan yang
keren.”
Raniva
senyum sambil menunjukkan gigi kelincinya. Akhirnya malam ini kami habiskan
berdua dengan suasana yang sangat manis.
“Ma,
kapan-kapan kita ke kuburan Kakek, ya!
Raniva mau bacain karangan Raniva buat Kakek.”
Malam
ini indah. Langitnya penuh bintang-bintang yang terang. Entah kenapa, aku yakin
salah satu alasan mengapa bintang-bintang itu bersinar sangat terang malam ini,
karena mendengar percakapan Raniva dan aku.
Terimakasih,
pahlawanku!
Terimakasih,
Ayah!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar