Selasa, 20 Maret 2018

Kakek dan Lagu Indonesia Raya


Kakek dan Lagu Indonesia Raya


Kring... kring... kring...!!!
Bunyi alarm dari telepon genggam mengingatkanku akan waktu. Sudah jam setengah lima sore sekarang. Aku harus bergegas menjemput gadis kecilku di tempat les bahasa Inggris. Segera ku bersiap diri, ku ambil kunci mobil dan langsung saja ku lajukan kendaraan beroda empat berwarna silver itu. Lima belas menit perjalanan aku sudah tiba ke tempat tujuan. Raniva belum keluar dari kelas bahasa Inggris nya. Sembari menunggu, aku keluar menuju deratan kursi tempat para orang tua duduk sambil menanti buah hati pulang. Aku duduk.
“Mama....”
Raniva seketika berlari begitu melihat wajahku. Ia memelukku manja.
“Wah, anak Mama sudah selesai les, ya? Ayo, kita pulang!”
Ku gandeng tangan mungil Raniva dan ku tuntun ia masuk ke dalam mobil. Kami bergegas menuju rumah. Pulang.
“Raniva, tadi les bahasa Inggris nya belajar tentang apa?” tanyaku memulai percakapan.
“Tadi Raniva belajar tempat-tempat liburan yang ada di Bengkulu, Ma. Kata Miss Tari di Bengkulu banyak tempat yang bisa kita kunjungi kalo lagi libur sekolah,” Raniva menjelaskan dengan antusias.
“Oh, ya? Seru donk, ya!” Aku pun membalas cerita Raniva dengan seksama.
“Iya, Ma! Tapi tempat yang dikasih tau Miss Tari ada yang udah pernah kita kunjungi waktu libur sekolah, Ma.”
“Oh, ya?” tanyaku penasaran. “Emang apa aja yang udah kita kunjungi, Nak?”
“Pantai Panjang, Ma. Kita kan sering banget jalan-jalan ke situ. Terus rumahnya Bapak Soekarno, sama satu lagi Fort Marlborough.”
“Nah, berarti Raniva harus seneng, soalnya Mama sama Papa sering ajakin Raniva jalan-jalan ke tempat liburan yang ada di kota kita. Iya kan?”
“Hehehehhe... iya yah, Ma! Liburan nanti ajakin Raniva pergi ke tempat yang belum pernah Raniva datengin ya, Ma!”
Aku membalas ajakan manja Raniva dengan senyuman lembut. Dalam hati aku berucap syukur atas kebahagiaan ini. Baru kusadari sudah besar ternyata gadis perempuanku ini. Sudah mampu merayu dengan wajah imut dan polosnya itu.
Tak lama kemudian, kami berdua tiba di rumah. Raniva lalu kuminta segera mandi dan membersihkan diri. Aku lalu menyiapkan pakaian dan perlengkapan Raniva. Kami tinggal bertiga, Raniva, aku, dan suamiku. Hanya saja, suamiku sedang bertugas di luar kota selama beberapa hari. Jadilah tinggal aku dan Raniva yang saat ini tinggal berdua.
“Mama, Raniva sudah selesai mandi.” Raniva mengejutkanku.
“Sini, keringkan dulu badannya, Nak!”
Raniva lalu menghampiriku untuk mengeringkan rambut dan badannya.
“Raniva, besok ada PR apa?” tanyaku sembari membalut rambutnya dengan handuk.
“Besok ada PR Bahasa Indonesia, Ma. Ibu guru suruh kami buat karangan.”
“Karangan apa?”
“Karangannya bebas, Ma. Tapi temanya harus tentang Pahlawan. Kata ibu guru sebentar lagi hari Pahlawan, Ma.”
“Oh, begitu. Nanati Mama bantu kerjakan PR. Sekarang, Raniva boleh nonton dulu, ya! Kalo Raniva sudah makan malam baru nanti kita kerjakan, ya!”
Raniva mengangguk. Aku melanjutkan mengeringkan rambutnya.
***
Seperti kebiasaan kami setiap malam, setelah makan malam adalah waktu bagi Raniva untuk belajar, juga waktu bagiku untuk mendampinginya membuat pekerjaan rumah.
“Raniva sudah tau mau membuat karangan tentang pahlawan yang mana?” tanyaku.
“Mama, pahlawan itu apa sih?”
Rupanya anak gadisku ini belum sepenuhnya paham tentang apa itu pahlawan.
“Pahlawan itu adalah orang yang sudah melakukan pekerjaan yang baik, dan pekerjaan yang dilakukannya berguna bagi banyak orang.” Jelasku pelan-pelan.
“Berguna bagi banyak orang?” tanya Raniva lagi. Ia bingung.
“Iya, sayang. Apa yang dilakukan pahlawan itu ada manfaatnya bagi banyak orang. Dia rela mengorbankan jiwa dan raganya untuk melakukan kebaikan. Pahlawan itu orang yang sangat berjasa. Contohnya Soekarno dan Hatta. Mereka dulu rela meninggalkan keluarga dan berjuang supaya negara kita bisa merdeka seperti sekarang.”
“Berarti ibu guru juga orang yang berjasa dong, Ma?”
“Ibu guru?” tanyaku pelan.
“Iya, Ma. Ibu guru rela mengajari muridnya meskipun muridnya malas dan gak mau belajar di kelas.”
“Iya, Nak. Ibu guru juga bisa disebut sebagai pahlawan.”
“Berarti, Raniva buat karangan tentang Ibu Wulan aja, Ma. Ibu Wulan ‘kan baik banget udah ngajarin Raniva dan teman-teman. Padahal banyak temen Raniva yang suka berantem dan nakal di kelas.”
“Hahahahahha...” Aku tertawa kecil. “Iya. Sayang. Ibu Wulan itu salah satu pahlawan.”
Kalo Mama, menurut Mama pahlawan itu siapa?” tiba-tiba Raniva bertanya.
“Pahlawan menurut Mama?” aku mengulang pertanyaan Raniva.
Raniva mengangguk. Penasaran.
Aku diam sejenak. Teringat kembali memori-memori indah bersama orang yang saat ini sedang aku rindukan. Orang yang bisa dibilang menjadi sosok pahlawan dalam hidup, Bapak.
“Bagi Mama, pahlawan itu adalah Bapak nya Mama, kakek kamu, nak.”
“Kakek?”
“Iya, Kakek”
“Kenapa kakek, Ma?”
Aku lalu dihampiri rasa semangat ingin menceritakan kisah-kisah indah ku dulu kepada anak perempuanku.
“Dulu waktu Mama masih kecil, Mama itu dekat sekali dengan kakekmu.” Aku memulai cerita.
“Mama anak pertama. Waktu Mama sudah masuk TK, Mama belum punya adik, jadi Mama seperti anak tunggal. Disayang sekali.”
Raniva mendengar dengan serius.
“Kakek dan nenek mu punya usaha toko yang cukup besar. Jadi, ketika Mama masuk sekolah, Kakek dan Nenek bersepakat membagi tugas. Nenek bertugas mengurus toko, kakek mu yang bertugas mengantar jemput Mama sekolah.”
“Terus, Ma?”
“Nah, waktu di TK, Mama ingat sekali Mama pulang agak lama dari biasanya karena harus latihan untuk upacara Bendera. Ibu guru Mama bertanya siapa yang mau jadi petugas upacara. Waktu itu Mama sangat takut tampil di depan banyak orang. Jadi Mama diam saja.”
Ada seperti ledakan semangat masuk ke rongga jantungku.
“Tanpa Mama duga, kakek mu yang menyaksikan dari belakang barisan langsung angkat tangan dan berteriak”
“Kakek bilang apa, Ma?”
“Kakek mu bilang, ‘Bu Guru, itu anak saya saja yang jadi pemimpin lagu Indonesia Raya’. Kakek bilang begitu sambil menunjuk ke arah Mama. Akhirnya, Mama disuruh maju dan ditunjuk untuk jadi dirigen lagu.”
“Hahahahahaha.... Berarti Kakek Raniva itu orang yang pemberani banget ya, Ma”
“Hahahahahaha.... bukan Cuma pemberani, tapi juga nekat.”
Kami berdua tertawa bersama-sama. Kami menikmati cerita.
“Terus apa lagi, Ma? Lanjutin ceritanya, Ma!”
“Jadinya Mama bingung. Mama ‘kan belum pernah belajar mimpin lagu. Akhirnya, Kakek kamu di rumah ajarin Mama.”
Emangnya kakek bisa mimpin lagu, Ma?”
“Wah, jangan salah, Kakek kamu itu apa aja bisa. Jadi dirigen bukan masalah buat Kakek. Waktu di rumah, Kakek nyuruh Mama ambil dua batang lidi sebelum belajar mimpin lagu.”
“Lidi? Untuk apa, Ma?”
“Awalnya Mama bingung. Ternyata, lidi itu diibaratkan jadi tongkat pemimpin lagu dalam kelompok musik atau paduan suara. Mama juga tahu itu waktu udah SMP.”
“Hahahahhahaha..... Kakek lucu ya, Ma. Lucu tapi juga hebat.” Raniva tertawa lepas.
“Jadi, gara-gara Kakek ajarin Mama mimpin lagu Indonesia Raya, makanya Mama anggap Kakek sebagai pahlawan ya, Ma?” tanya Raniva polos.
“Raniva, Kakek bagi Mama bukan cuma sebagai orang tua, tapi juga guru sekaligus pahlawan.” Aku menjelaskan pelan-pelan.
“Mungkin bagi orang lain, Kakek mu mengajari Mama memimpin lagu Indonesia Raya itu adalah hal kecil, namun bagi Mama itu adalah kenangan luar biasa yang menghantarkan Mama menjadi pribadi yang berguna. Setelah Mama bisa memimpin lagu Indonesia Raya, Mama jadi sering sekali ditunjuk untuk jadi dirigen baik di SD, SMP, juga sampai Mama kuliah dulu. Bahkan Mama pernah jadi dirigen di berbagai acara. ”
“Wah, Mama serius?”
“Iya, Nak! Dan, yang paling penting adalah, Kakek mengajari Mama untuk meresapi setiap kata yang ada di lagu Indonesia Raya. Mengingatkan Mama tentang perjuangan para pahlawan kita yang rela berkorban demi bangsa dan negara. Dan itu membuat Mama semakin mencintai Indonesia.”
Raniva mendengarkan dengan seksama. Ia sangat bersemangat mendengar cerita ku. Lalu aku berhenti. Raniva diam. Kami saling menatap.
“Kakek betul-betul seperti pahlawan ya, Ma!” tiba-tiba Raniva berucap.
Aku tersenyum. Hatiku menghangat. Betapa aku bahagia mendengar ucapan Raniva tentang Kakeknya. Biarpun Raniva belum sempat berjumpa dengan kakeknya, namun pengalaman yang kuceritakan pada Raniva bisa menjadi penghubung antara keduanya.
“Nah, Mama sudah cerita. Sekarang waktunya Raniva mengerjakan PR nya, ya!” aku mengingatkan Raniva.
“Ma, aku mau buat karangan tentang Kakek aja, deh!”
“Loh, gak jadi tentang Ibu Wulan?” tanyaku.
“Gak jadi ah, Ma! Soalnya pasti banyak yang buat karangan tentang Ibu Wulan.”
“Memangnya menurut Raniva, Kakek juga pahlawan, ya?”
“Iya, Ma. Kakek itu pahlawan karena sudah jadi orang tua yang baik untuk Mama, dan jadi Kakek yang hebat untuk Raniva.”
Aku semakin bahagia. Air mata haru hampir saja jatuh. Tapi kutahan.
“Nah, Ma. Raniva punya ide untuk judul karangan Raniva.”
“Apa judulnya, sayang?”
“Raniva kasih judul, ‘Kakek dan Lagu Indonesia Raya’. Bagus gak, Ma?”
Senyum lebar-lebar keberikan. Anak gadisku sungguh pandai.
“Wah, judulnya bagus sekali. Pasti isi karangannya juga akan jadi karangan yang keren.”
Raniva senyum sambil menunjukkan gigi kelincinya. Akhirnya malam ini kami habiskan berdua dengan suasana yang sangat manis.
“Ma, kapan-kapan kita ke kuburan Kakek, ya! Raniva mau bacain karangan Raniva buat Kakek.”
Malam ini indah. Langitnya penuh bintang-bintang yang terang. Entah kenapa, aku yakin salah satu alasan mengapa bintang-bintang itu bersinar sangat terang malam ini, karena mendengar percakapan Raniva dan aku.
Terimakasih, pahlawanku!
Terimakasih, Ayah!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar