Selasa, 20 Maret 2018

Perempuan di Waktu Subuh



“Kring... kring... kring...”
Bunyi alarm memenuhi seluruh ruangan kecil di sebuah rumah. Hari masih gelap, matahari masih malu-malu untuk muncul, suara kokok ayam juga baru beberapa kali terdengar. Hartini, nama gadis yang sedang mencoba melawan rasa kantuk. Tidurnya baru sebentar, tapi sudah harus bangun lagi. Ia kembali harus menjalani hari ini dengan sangat berat.
            Hartini melihat jam kecil yang warnanya sudah bercampur dengan warna debu, masih jam empat. Dia belum telat. Segera Hartini mencuci mukanya, mengambil peralatan bersih-bersih, kemudian melakukan pekerjaan rumah dengan penuh semangat.
            “Mar, bangunlah, dek! Ayuk ‘nak berangkat kini.”
Hartini perlahan membangunkan adik perempuannya, Martina dari peraduan mimpinya. Sudah hampir jam lima subuh. Sudah saatnya Hartini keluar dari rumah kecilnya mencari peruntungan di pelabuhan untuk bertransaksi jual beli ikan. Membeli sedikit ikan, lalu menjualnya di
Iyo, Yuk! Mar bangun, Yuk Tini pailah kini, Mar bae yang jago Ibuk.”
Dengan baju hangat yang sebenarnya sangat tipis, Hartini mengeluarkan motor butut mereka, menuju pelabuhan. Sudah hampir dua minggu Hartini menggantikan pekerjaan yang biasa dilakukan ibunya. Ibu Hartini terkena penyakit demam berkepanjangan yang membuatnya harus terbaring lemah di tempat tidur. Hidup mereka miskin, hingga terpaksa mengandalkan obat-obat yang dibeli dari warung. Hartini, gadis muda yang terpaksa menggantikan pekerjaan ibunya demi memenuhi kebutuhan keluarga.
“Nah, Tini, sinilah. Banyak ikan segar disiko, ‘nak beli yang mano?” Tawar salah satu penjual ikan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) itu.
“Tini ‘nak ngambik ikan tuna bae, Bang! Ado pesanan”.
“Tuna bae? ‘nak berapo kilo?”
“Tujuh kilo bae, Bang! Kalo banyak nian kelak idak abis.”
Transaksi jual beli ikan pun usai, Hartini kembali mengendarai motornya menuju perumahan tempat ibunya dan ia menjajakan ikan dagangannya. Dalam perjalanannya, terbersit fikiran untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang perguruan tinggi. Namun apa daya, desakan hidup membuatnya harus berfikir berkali-kali. Ibunya sakit, ayahnya meninggalkan mereka sejak empat tahun lalu, dan adik perempuan satu-satunya masih duduk di bangku SMP. Perjuangan di hari-hari depan masih sangat panjang, seperti tidak ada waktu untuk berkuliah. Di waktu subuh itu, Hartini melajukan motornya dengan perlahan, melawan dingin angin yang menusuk, mencari beberapa rupiah untuk keluarga yang sangat dicintainya.
***
“Buk, kawan-kawan Tini sms Tini, katonyo tobo ‘tuh lulus SBMPTN. Banyak yang lulus di kampus negeri, Buk.” Sambil menyuapi lembut ibunya, Hartini menceritakan kabar baik yang dialami teman-teman sekolahnya.
Alhamdullilah, Tin. Ibuk senang dengarnyo.”
Iyo, Buk. Tini jugo senang.”
Ibu Hartini tahu bahwa anak gadisnya menyimpan kesedihan mendalam. Hartini adalah anak yang sangat berprestasi sejak di bangku sekolah dasar. Di SMA nya saja, tidak pernah Hartini mendapatkan peringkat selain peringkat satu dan dua.
“Tini, ibuk tau Tini sedih ‘kan? Tini jugo ndak lanjut kuliah ‘kan?”
“Hahahaha... memang idak bisa ngicu Tini kalo kek Ibuk. Tini diam-diam padahal, tapi Ibuk selalu tau, yo.”
“Tini, ibuk minta maaf belum bisa ngasih kehidupan yang bagus untuk kito, nak! Tini ‘tuh anak yang berprestasi, tapi karno biaya belum bisa kuliah. Ibuk minta maaf yo, nak!”
“Ibuk ‘nih ngapo ngomong cak itu? Tini bersyukur punyo orang tua ‘cak ibuk. Ibuk ‘tuh kuat nian menjaga kami. Subuh-subuh ibuk ‘lah keluar jualan ikan, idak peduli dingin, hujan, panas. Tini sekolah sampai SMA bae lah luar biaso, Buk. In sha Allah, kalo ado rejeki kuliah, pasti ado ajo jalannyo kuliah, Buk.”
Tak kuasa air mata Ibu Hartini mengalir. Ibu Hartini  sungguh terharu. Betapa bangganya Ia pada anak gadisnya, namun disisi lain, rasa bersalah melingkupi hatinya.
Di tengah pembicaraan haru mereka, bunyi telepon genggam milik Hartini tiba-tiba berbunyi. Ada panggilan dari guru kelasnya, Ibu Siska.
“Assalammualaikum. Halo, Ibu Siska.”
“Waalaikumsalam, Nak. Hartini sedang sibuk, tidak?”
“Tidak, Bu. Ada apa kira-kira ibu menelpon siang-siang begini?”
“Nanti sore kamu bisa ke rumah Ibu, tidak? Ada hal penting yang ingin Ibu bicarakan.”
“Sore ini bisa, Bu. Sekitar jam 4 bagaimana, Bu?”
“Boleh juga jam segitu. Ibu tunggu di rumah, ya. Wassalammualaikum.
“Waalaikumsalam, Bu.”
Sambungan telepon pun terputus. Hartini sungguh penasaran kira-kira apa yang akan dibicarakan oleh guru yang sangat baik itu dengannya.
***
Tepat pukul empat, Hartini tiba di rumah Ibu Siska. Ia pun disambut dengan hangat dan dipersilahkan duduk di ruang tamu yang bergaya minimalis tersebut.
“Hartini, kamu tau ‘kan kalau kamu itu anak yang pintar dan santun? Kamu anak yang juga sangat menyenangkan.” Ibu Siska membuka perbincangan.
“Alhamdulillah, Bu. Ibu Siska ini selalu memuji saya seperti biasanya.” Hartini merona.
“Hahahaha.....” Ibu Siska tertawa kecil. Hartini semakin merona.
“Tini, ibu tanya serius, ya. Kamu mau lanjut kuliah, tidak?” Tanya ibu Siska tiba-tiba.
“Wah, kalau Ibu tanya begitu, jawaban saya sudah pasti mau, Bu.”
“Kamu sudah daftar di kampus mana, Tin?”
“Tahun ini, sepertinya saya belum lanjut, Bu. Ibu saya sakit dan tidak bisa bekerja, jadi saya yang menggantikan untuk memenuhi kebutuhan di rumah, Bu. Adik saya masih SMP, masih harus tetap lanjut sekolah, Bu.” Jawab Tini panjang lebar.
“Tin, Ibu sangat salut pada kepribadian kamu. Kamu anak yang santun, pintar, mudah bergaul dengan siapapun. Sayang sekali kalau anak cerdas seperti kamu tidak bisa lanjut kuliah.”
“Ibu Siska terlalu memuji, saya ini biasa saja ‘kok, Bu” Hartini merendah.
“Sebenarnya, maksud ibu mengudang kamu ke sini adalah mau menawarkan sesuatu.”
Hartini pun penasaran dengan pernyataan guru nya itu.
“Ibu mau menawarkan apa, Bu?
“Begini, Tin, kamu tahu ‘kan kalau suami Ibu itu bekerja di salah satu institut di kota kita? Nah, ibu sudah banyak cerita ke suami ibu mengenai kamu. Suami ibu pun merekomendasikan sesuatu supaya kamu bisa lanjut kuliah.”
“Rekomendasi apa, Bu?” Hartini makin penasaran.
“Kalau kamu mau, suami Ibu bersedia menemani kamu menemui Rektor tempat suami Ibu bekerja. Kamu bawa semua bukti prestasi kamu, lalu kamu tunjukkan ke Rektor. Kamu juga utarakan keinginan kamu yang besar untuk bisa lanjut kuliah. Siapa tau, ada keringanan yang diberikan untuk masalah biaya perkuliahan.”
Hartini seketika seperti mendapatkan angin segar. Ternyata ada jalan dari Tuhan bagi dia untuk melanjutkan pendidikannya. Namun, tiba-tiba Hartini pun ragu.
“Tapi, Bu, pihak kampus pasti meminta jaminan dari saya. Tidak mungkin mereka mau memberi cuma-Cuma.”
“Tini, kamu itu anak yang cerdas. Tuhan memberikan kamu kecerdasan yang lebih pasti ada maksudnya.”
Hartini diam. Ia berpikir. Ia merasa perkataan Ibu Siska sangat benar. Ia yang selama ini hanya menerima dan pasrah saja tanpa berusaha mencari jalan. Sekarang, Tuhan sudah menunjukkan jalan untuk kuliah, dan Ia akan menggunakan jalan ini dengan semaksimal mungkin, demi Ibunya, adiknya Martina, dan juga cita-citanya.
***
Jumat di pagi hari sangat indah. Matahari datang dengan berani dan cerah hari ini. Seperti matahari itu, Hartini juga harus berani menghadapi hari ini. Hari ini adalah hari penentuan. Ia akan menemui Rektor salah satu kampus di kotanya ditemani Pak Aldi, suami gurunya, Ibu Siska. Ia akan menunjukkan segala prestasinya selama sekolah dan meyakinkan Rektor tersebut bahwa Ia layak untuk diberi kesempatan berkuliah. Hari ini, Hartini siap.
“Sudah siap, Tin?” Tanya Pak Aldi.
In sha Allah, Pak. Saya siap.”
Mereka berdua pun masuk ke ruangan Rektor dan dipersilahkan duduk. Hartini sedikit merasa grogi ketika memperkenalkan diri dan menunjukkan segala prestasinya kepada Rektor tersebut.
“Kamu sangat berprestasi, ya! Tapi, saya mau tau jika kamu diberikan kesempatan untuk kuliah di kampus ini, komitmen apa yang akan kamu buat?” Tanya Pak Rektor.
Tepat seperti perkiraan Hartini, pertanyaan ini pasti diajukan. Namun, Hartini mencoba tetap tenang dan menjawab pertanyaan yang diberikan.
“Jika Bapak memberikan saya kesempatan saya untuk berkuliah di kampus ini, saya punya komitmen untuk belajar dengan sungguh-sungguh dan menjaga IPK saya tetap empat sampai saya lulus, Pak.” Jawab Hartini lantang.
Sang Rektor tampak terkejut, namun sedikit memberikan senyuman.
“Lalu, kalau IPK kamu tidak sampai empat, bagaimana?”
“Saya akan berusaha menjaganya, Pak. Jika Bapak dapati IPK saya tidak empat saya siap dikeluarkan dari kampus ini, Pak. Saya berjanji, Pak. Ini adalah kesempatan besar bagi saya untuk kuliah dan saya akan menggunakannya sebaik mungkin. In sha Allah, saya akan bersunguh-sungguh, Pak.”
Pak Rektor diam lalu akhirnya menyodorkan tangannya dan tersenyum.
***
Air mata haru tak kuasa turun dari kedua mata indah milik Hartini. Di hari Jumat ini, tanggal 21 April 2017, tepat di momen perayaan Kartini, gadis muda bernama Hartini mendapatkan hadiah yang spesial. Selangkah lagi, ia akan menjadi mahasiswa dan mewujudkan mimpi dan cita-citanya. Perjuangan Kartini nyatanya membuat Hartini, sosok Kartini masa kini terinspirasi dan berani melawan kerasnya hidup demi sebuah kebahagiaan. Jika dulu, Kartini berjuang dalam surat-suratnya agar perempuan juga mendapatkan perlakuan yang setara, khususnya di bidang pendidikan, Hartini memakai perjuangan Ibu Kartini tersebut untuk berjuang dalam hidupnya melawan kemiskinan, memakai kesempatan, dan meraih kebahagiaan. Hartini sudah memenangkan perjuangannya, dan semoga perempuan Indonesia lainnya juga ikut berjuang meraih mimpi mereka lewat perjuangannya masing-masing.

x

Tidak ada komentar:

Posting Komentar